|
ODHA di Bali Keluhkan Krisis Obat HIV
Kamis, 10 April 2008 | 20:33 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kalangan Orang dengan HIV AIDS (ODHA) di Bali mengeluhkan terjadinya kekurangan obat Anti Retroviral (ARV) di Bali. Bila situasi itu terus berlanjut dikhawatirkan akan makin banyak ODHA yang meninggal dunia.
Koordinator Kelompok Dukungan bagi ODHA ”Suryakanta” Carna Wirata menyebut, kekurangan itu sudah terasa dalam 1 bulan terakhir. Terutama untuk ARV dari jenis Duviral. “Dari jenis itu sudah tidak ada sama sekali. Yang lain stoknya tinggal untuk bulan ini saja,” katanya, Kamis (10/4).
Suplai ARV biasanya diberikan oleh Departemen Kesehatan Pusat dan langsung dikirim ke RS Singaraja yang menjadi RS rujukan.
Wirata yang mendampingi 44 ODHA di Singaraja menyebut, ODHA yang menggunakan Duviral terpaksa dialihkan menggunakan obat dari jenis yang lain seperti Starviudine, Hiriral atau Neviral. Tetapi kemudian terjadi dampak sampingan seperti rasa mual dan anemia. Padahal, dari 44 ODHA itu 25 diantaranya sudah merasa cocok dengan Duviral.
Manager Penanganan Kasus HIV di RS Singaraja ini mengaku sudah berusaha untuk meminta tambahan stok ke RSUP Sanglah. Namun pihak RSUP Sanglah menyatakan , persediaan mereka juga telah menipis. Adapun kebutuhan untuk kelompok dukungannya mencapai 25 x 60 butir Durival yang biasanya diberikan 1 bulan sekali. Pil itu harus diminum setiap hari untuk menekan pertumbuhan virus HIV.
Dikonfirmasi mengenai situasi itu, Project Officer Komisi Penanggulangan (KPA) HIV AIDS Bali Yahya Anshori mengakui adanya keluhan tersebut. Pihaknya telah meminta Depkes untuk bisa mengatasi masalahnya.
Menurut dia, akar masalahnya adalah pola distribusi yang terpusat di Jakarta untuk rumah sakit rujukan yang tersebar di Bali. Mestinya, RS Sanglah dapat dijadikan pusat distribusi regional untuk memangkas prosedur birokrasi. “Pola seperti itu sudha diterapkan di Surabaya yang jumlahnya ODHA-nya lebih sedikti daripada di Bali,” katanya. Rofiqi Hasan
INDEKS BERITA LAINNYA :
|