|
Untuk Dapat Minyak Tanah, harus dicatat atau antre dua hari
Senin, 14 April 2008 | 18:51 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kendati berada di areal kawasan minyak, tak membuat Kabupaten Bojonegoro terbebas dari kelangkaan minyak tanah. Buktinya, di sejumlah tempat di kabupaten ini, untuk mendapatkan minyak tanah, syaratnya harus antre
sekitar dua hari atau namanya sudah dicatat pengecer
atau agen bersangkutan. Jika tidak, sulit untuk
mendapatkannya.
Selain langka, minyak tanah di Bojonegoro di tingkat pengecer juga pelan-pelan naik. Hingga sekarang ini,
rata-rata minyak tanah antara Rp 3300 hingga Rp 3500
perliternya. Tetapi, sebagian besar warga di
Bojonegoro mengaku masih memilik minyak tanah sebagai
bahan bakar termurah. "Masih minyak tanah. Karena
lebih mudah penggunaannya," tegas Kartiyem, 58, tahun,
salah satu pemilik warung makan di kawasan Jl Jaksa
Agung Suprapto, Bojonegoro.
Tetapi untuk mendapatkan minyak tanah, Kartiyem, harus rela antre sedikitnya dua hari. Jika stok minyak tanahnya habis, dia lebih dahulu mengantre jerigennya ke seorang agen di kawasan Pasar Besar Bojonegoro. Padahal, kebutuhan minyak tanah di warungnya, rata-rata 2 liter perhari. Tetapi, jika agen langganannya habis, janda tiga anak ini, harus antre di langganan lain. Tetapi, "Nama saya harus tercatat di agen itu. Jika tidak, saya tak dapat minyak tanah meski mengantre," tandasnya.
Kebiasaan antre minyak tanah itu, sudah berlangsung selama dua pekan ini. Ketika itu, harga minyak tanah mulai merangkak naik dan di tingkat pengecer sudah mencapai Rp 2.900 hingga Rp 3.000 perliternya. Mereka khawatir, jika harga terus merangkak naik, kondisinya tidak terkendali. Dan ujung-ujungnya orang menyimpan minyak tanah dalam jumlah besar.
Pengakuan senada juga diungkapkan oleh Wasti, warga Sumbang, Bojonegoro. Menurutnya, jika minyak tanah mulai langka dan mahal, dia berharap Pemerintah secepatnya untuk melaksanakan konversi gas untuk mengganti minyak tanah. Hanya, dirinya belum tahu, kapan konversi gas dilaksanakan di Bojonegoro.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Bojonegoro, Djoko Prasetyo mengatakan, harusnya minyak tanah tidak langka dan tidak mahal. Sebab, jika dilihat dari jatahnya, Bojonegoro sudah cukup dan tidak ada pengurangan.
Dia menyebutkan, jatah minyak tanah di Bojonegoro rata-rata cukup. Dia menyebutkan, angkanya sekitar 8 kiloliter perbulannya. Jatah tersebut kiriman dari Pertamina Depot Cepu. "Cukup jatah minyak tanah di Bojonegoro. Tetapi jika langka, ini yang aneh," tegasnya.
Dia menyebutkan, dengan adanya minyak tanah langka dan mahal, pihaknya akan melakukan sidak di lapangan. Misalnya, ke sejumlah agen dan pengecer di kecamatan-kecamatan di Bojonegoro. Jika misalnya, ada indikasi menimbun, pihaknya akan koordinasi dengan polisi. sujatmiko
INDEKS BERITA LAINNYA :
|