Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

114 Spesies Burung ditemukan di Pegunungan Argopuro
Kamis, 17 April 2008 | 18:56 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Tim peneliti Mahasiswa Pecinta Alam Semesta Fakultas Pertanian Universitas Jember menemukan sedikitnya 114 spesies burung dari 28 family ditemukan di kawasan Pengunungan Hyang Argopuro.

Menurut Ketua Tim, Irwanto, penelitian dilakukan selama tujuh hari enam malam pekan lalu. "Kami juga menemukan fakta bahwa ada 16 burung endemik dan 11 jenis burung migran di kawasan Pegunungan Hyang Argopuro," katanya kepada TEMPO, Kamis (17/4).

Ke-16 burung endemik (jenis yang terbatas pada suatu kawasan geografi tertentu dan tidak dijumpai di tempat lain) adalah burung Berinji Gunung, Cica Matahari, Cinenen Jawa, Kipasan Mutiara, Meninting Kecil, Opior Jawa, Prenjak Jawa, Takur Bututut, Takur Tor Tor, Takur Tulung Tumpuk, tesia Jawa Walet Gunung, Walik Kepala Ungu, Wregan Jawa dan burung yang memiliki ciri-ciri seperti burung Kacamata Jawa dan burung Sikatan Aceh.

Dari 114 spesies burung itu, kata Irawan, paling banyak dijumpai di ketinggian 2000 hingga 2500 meter diatas permukaan laut.

Spesies burung yang paling banyak ditemukan di kawasan hutan heterogen yang memiliki banyak buah-buahan, biji-bijian dan serangga. "Dua jenis burung di pegunungan Hyang yang saat ini langka dan nyaris punah, yakni puyuh gonggong jawa dan merak hijau (pavo muticus)," ujarnya.

Pegunungan Hyang Argopuro terletak 15 kilometer arah barat laut Kabupaten Jember. Gunung Argopuro (3.088 m) termasuk dalam kawasan pegunungan itu.

Lektor Kepala Bidang Ekologi Fakultas Pertanian Unej, R. Soedrajad mengatakan, beragam aktifitas sosial-ekonomi masyarakat yang bermukim di enam desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Pegunungan Hyang Argopuro, ditengari telah merusak ekosistem disana. "Yang menjadi ancaman kelestarian flora dan fauna di kawasan itu adalah perambahan hutan dan kebakaran hutan," katanya. mahbub djunaidy


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk121514 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Satu Orang Terluka di Kecelakaan Tol Tangerang
Kejaksaan Kembalikan Berkas Kasus Sinar Pacific
Persiba Siapkan Pengganti Peter Butler
Empat Korban Minuman Keras Masih dirawat, Tiga lainnya Tewas
Menteri Keuangan Kembali Bekukan Izin Kantor Akuntan Publik

<< April,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data