Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Soal Ahmadiyah

SBY Didesak Tak Turuti Tekanan Ormas Islam
Senin, 21 April 2008 | 08:09 WIB

TEMPO Interaktif, DENPASAR:Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) meminta agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak menuruti keinginan sejumlah Ormas Islam untuk membubarkan Ahmadiyah. Mereka menilai, keinginan itu didasari motif untuk menggunakan agama sebagai alat pemecah bangsa.

Pernyataan itu disampaikan juru bicara JAI Syamsir Ali didampingi Sekjen PB JAI Ahmad Supardi, Minggu (20/4) di Denpasar. ”Ini bukan agenda Mukernas tapi perkembangan situasi membuat kami harus membuat pernyataan,” katanya.

Syamsir sendiri menolak menyebut ormas yang dimaksud.”Anda tahu sendirilah,” sebutnya.

Menurut Syamsir, penolakan pembubaran itu karena mereka merasa memiliki andil dalam perjuangan kemerdekaan. Dari 17 tokoh yang menerima penyerahan kedaulatan NKRI dari Belanda pada tahun 1949 salah-satunya adalah tokoh Ahmadiyah Isa Muhammad. Syamsir lalu mengutip pernyatan Bung Karno dalam buku ”Di Bawah Bendera Revolusi” yang merasa memperoleh pendidikan dari kalangan Ahmadiyah.

JAI bahkan meminta agar Bakorpakem mengkaji ulang rekomendasi pembubaran. Apalagi pemantauan dilakukan secara sepihak dan tidak melibatkan pemantau independen. ”Itu sebabnya ada kesimpulan Ahmadiyah mempunyai kitab suci Tadzkirah yang menggantikan Al Qur, an. Naudzubillah,” tegasnya.

Menurut Syamsir, kesimpulan itu adalah sebuah kebohongan dan fitnah yang sayangnya justru dilakukan oleh suatu lembaga pemerintahan. Bila rekomendasi terus bergulir, mereka berniat menempuh jalur hukum baik di tingkat nasional maupun internasional. ”Kami mempertahankan hak asasi untuk beribadah dan menjalankan keyakinan kami,” tegasnya.

JAI mengaku tak akan tunduk bila pemeritah menyatakan pembubaran mereka. ”Karena agama islam bukan pemberian pemerintah, tetapi karena hati nurani kami,” tandas Syamsir.

Sementara mengenai keberadaan fatwa MUI, Ahmadiyah menilainya sebagai fatwa yang tidak proporsional. Sebab, perbedaan pendapat kemudian diakhiri dengan keputusan untuk membubarkan. Mengutip kesimpulan Komnas HAM, JAI menyatakan fatwa itu telah menjadi pemicu anarkhisme. Sayangnya, justru kemudian diperkuat oleh rekomendasi Bakor Pakem. ”Padahal masih ada 200 warga kami di NTB yang hidup di pengungsian dan butuh penyelesaian masalah,” sebutnya.

Rofiqi Hassan


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Mukernas Ahmadiyah Terpaksa Dipersingkat
Polda Bali Minta Mukernas Ahmadiyah Tak Digelar
AKKBB Desak Pemerintah Batalkan SKB Tiga Menteri Soal Ahmadiyah
Ahmadiyah Tetap Gelar Mukernas di Bali
Pembubaran Ahmadiyah Disesalkan
Jemaah Ahmadiyah Tetap Lakukan Aktifitas
Polisi Minta Masyarakat Jangan Anarkis Terhadap Ahmadiyah
Situasi Kuningan Mencekam
Penyerbuan Ahmadiyah Kuningan Rusuh
Ulama NTB Desak Ahmadiyah Dilarang
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [5]
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk121648 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< April,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data