|
Petani Anggap Tarif Bea Masuk Gula Rafinasi Akal-Akalan
Senin, 28 April 2008 | 18:46 WIB
TEMPO Interaktif, Cirebon:Rencana pemerintah menaikkan tarif bea masuk gula jenis rafinasi dan raw sugar dianggap Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) sebagai usaha akal-akalan. Kenaikan bea masuk itu justru bisa membuat harga gula jenis tersebut naik di pasaran. "Saya anggap rencana kenaikan tarif bea masuk tersebut sebagai akal-akalan saja," kata Anwar Asmali, Ketua APTRI di Cirebon, Senin (28/4).
Menurut Anwar, jika tarif bea masuk naik, maka dipastikan harga gula jenis rafinasi dan raw sugar di pasaran pun akan turut naik. Ini sama saja dengan menguntungkan pengusaha gula rafinasi.
Selain itu hingga kini masih tidak ada jaminan bahwa gula rafinasi dan raw sugar tidak akan bocor ke pasaran. Karena itu, percuma saja tarif bea masuk dinaikkan, karena hanya akan menguntungkan pengusaha gula rafinasi.
Yang terpenting bagi petani tebu rakyat, kata Anwar, gula rafinasi itu tidak lagi ada di pasaran seperti yang saat ini yang berakibat 30 ribu ton gula lokal menumpuk di sejumlah pabrik yang berada di wilayah kerja PT PG Rajawali II.
Petani tebu lainnya, Dono mengungkapkan jika gula rafinasi dibiarkan dijual bebas di pasaran seperti saat ini, dipastikan harga lelang gula akan turun. "Kami takut harga dasar lelang gula Rp 4.900/kg tidak terpenuhi," tuturnya.
Kondisi ini ini sudah terlihat saat DPC APTRI Kadipaten, Majalengka, melakukan lelang beberapa waktu lalu, harganya lelang hanya Rp 4.800/kg, dibahwa harga dasar lelang yang ditetapkan. Jika ini dibiarkan, maka perlahan tapi pasti, petani tebu rakyat akan mengalami kerugian.
Sementara itu Direktur Utama PT PG Rajawali II, Edi Suprapto, meminta antara APTRI dan asosiasi pengusaha gula rafinasi duduk bersama satu meja membicarakan permasalahan ini. "Agar tercapai kata sepakat diantara mereka," tuturnya.
Ivansyah
INDEKS BERITA LAINNYA :
|