|
Pengungsi Lapindo Mengemis Massal
Jum'at, 02 Mei 2008 | 15:14 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengungsi korban Lapindo di Pasar Baru Porong menggelar aksi mengemis massal, Jum'at (2/5). Aksi yang mereka gelar di Jalan Raya Porong tepatnya disekitar Pasar Lama Porong ini, terpaksa dilakukan karena mereka sudah tidak lagi memiliki makanan setelah sejak kemarin, Lapindo Brantas Inc menghentikan secara sepihak bantuan makanan bagi pengungsi.
"Kita tidak punya lagi pilihan, setelah rumah tenggelam lumpur, mayoritas warga tidak lagi memiliki pekerjaan tetap. Selama ini kami hanya bisa mengandalkan bantuan," ujar Sunarto, coordinator warga.
Mengemis massal ini setidaknya dilakukan oleh sekitar 300an warga. Dengan membawa beberapa poster, pengungsi yang mayoritas ibu-ibu ini meminta belas kasihan kepada seluruh pengguna Jalan Raya Porong serta pengunjung Pasar Lama Porong.
Para pengungsi ini adalah mereka yang hingga saat ini menolak mengambil jatah uang paket yang disediakan Lapindo berupa uang kontrak rumah Rp 5 juta (untuk kontrak rumah dua tahun), uang transportasi Rp 500 ribu, serta uang makan Rp 300 ribu perbulan perjiwa selama enam bulan terturut-turut.
Mereka menolak uang kontrak karena menuntut kejelasan pembayarann ganti rugi yang telah diatur sesuai dengan Peraturan Presiden No 14/2007. Penolakan ini membuat warga selama 17 bulan ini bertahan dilokasi pengungsian dan berharap Lapindo selalu memberikan bantuan makanan.
Padahal, sejak Kamis (1/5), Lapindo menghentikan pemberian jatah makan nasi bungkus sehari tiga kali kepada warga. Lapindo berharap, penghentian ini membuat para pengungsi segera mengambil jatah uang paket dan segera meninggalkan lokasi pengungsian.
Sementara warga sendiri ngotot jika pemberian makanan adalah tanggung jawab penyebab bencana. "Lapindo penyebab semua ini, jadi tidak ada alasan untuk menghentikan memberi makan pengungsi," tambah Sunarto.
Dengan dihentikannya bantuan makanan, pengungsi saat ini tidak tahu lagi akan meminta bantuan dari mana. Padahal, mayoritas dari mereka saat ini mennganggur setelah rumahnya ditenggelamkann oleh lumpur.
Cordinator warga lainnya, Pitanto, minta kepada pemerintah segera mendesak Lapindo untuk kembali memberikan jatah makanan bagi pengungsi. Jika tidak, warga mengancam akan menghentikan secara paksa seluruh proses pembuatan tanggul lumpur yang berada di bekas Desa mereka.
"Kami masih memiliki hak atas tanah kami, jika hingga Senin nanti tidak ada kepastian, kami terpaksa akan blockade akses pembuatan tanggul disekitar Desa kami," kata Pitanto. Bahkan warga juga mengancam akan menjebol tangul-tanggul tersebut.
Menanggapi desakan Gubernur Jatim Imam Utomo yang telah meminta kepada Lapindo untuk kembali memberikan jatah makan bagi pengungsi, Pitanto pesimis hal itu akan dilakukan Lapindo.
"Wong Presiden saja takut pada Lapindo, apalagi hanya Gubernur, pasti tidak akan digubris Lapindo," tambahnya.
Buktinya, hingga hari ini tak ada bantuan apapun dari Lapindo, yang ada hanyalah bantuan dari Dinas Sosial Sidoarjo berupa 1 ton beras, 200 kardus mie instant, serta 200 kg gula. Bahkan, peralatan masak yang biasanya digunakan Lapindo untuk memasak makanan bagi pengungsi, saat ini juga sudah dibawa keluar dari Pasar Baru Porong. Rohman Taufiq
INDEKS BERITA LAINNYA :
|