|
Forum Penyelamat Istana Gebang Urus Badan Hukum
Minggu, 04 Mei 2008 | 19:57 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Upaya penyelamatan Istana Gebang, rumah bekas kediaman mantan Presiden Soekarno di Jalan Sultan Agung 56, Kota Blitar yang dilakukan Forum Penyelamat Istana Gebang (FPIG) mulai ditata secara yuridis. Forum yang dibentuk untuk menggalang dana seluruh lapisan masyarakat itu kini dalam proses didaftarkan menjadi badan hukum. Sehingga penggunaan dana yang terkumpul bisa dikelola secara profesional dan dipertanggungjawabkan secara hukum.
"Untuk sementara proses penggalangan dana kami hentikan karena kami berinsiatif untuk mengajukan FPIG sebagai badan hukum. Tapi kami tetap menerima jika ada masyarakat yang menyumbang," kata Islan Gatot Imbata, Ketua FPIG, Minggu (4/5).
Andreas Edison, Sekretaris sekaligus koordinator penggalangan dana FPIG menjelaskan, langkah yang kini ditempuh adalah mendaftarkan FPIG agar memiliki akta notaris. Pihaknya tidak mengarahkan forum tersebut menjadi yayasan karena ada syarat tertentu yang memberatkan. Yaitu, yayasan harus memiliki dana tunai sebesar Rp 20 juta. Padahal FPIG hanyalah lembaga non profit yang tidak berpretensi mencari keuntungan. Sehingga forum dirancang menjadi lembaga nirlaba.
"Sambil menunggu akta notaris, kita tetap akan menerima sumbangan dari masyarakat yang peduli dengan nilai sejarah Istana Gebang," kata Edison.
Ketua FPIG, Islan Gatot Imbata yang pernah menjadi pembantu rumah tangga Istna Gebang tahun 1978-1999 menyatakan, upaya penyelamatan aset sejarah mutlak harus dilakukan agar kebesaran sang proklamator tidak sirna. Jika rencana penjualan rumah di atas tanah seluas 14 ribu meter persegi itu jadi dilakukan para ahli waris Ny Soekarmini Wardoyo (kakak kandung Bung karno), FPIG akan menjadi lembaga yang diharapkan bisa menyelamatkan asset sejarah agar tidak jatuh ke pihak swasta.
Langkah lain yang akan dilakukan Islan adalah mengontak jaringan para peziarah makam Bung Karno yang tersebar di seluruh dunia. Selama 20 tahun menjadi pembantu rumah tangga di Istana Gebang, Islan juga bertindak sebagai tuan rumah jika para peziarah beristirahat di Istana Gebang. Bagi peziarah yang hendak mandi, tidur atau beribadah, Islan bersama para abdi dalem lainnya yang selalu menyiapkan air dan tikar.
"Hingga kini komunikasi saya dengan para peziarah makam Bung Karno masih kuat. Saya yakin mereka tidak akan tinggal diam jika tahu Istana Gebang akan dijual," kata Islan yang pernah menjabat Ketua DPRD Bl;itar (1999-2004) dan kini menjadi anggota DPRD Jawa Timur.
Sejak dideklarasikan pada tanggal 27 April 2008 lalu di rumah tua yang kini jadi museum Bung Karno itu, FPIG telah mendapatkan sumbangan sekitar Rp 10 juta. Sumbangan bersumber dari para tukang becak, pedagang dan sejumlah elemen masyarakat Blitar.DWIDJO U. MAKSUM
INDEKS BERITA LAINNYA :
|