|
TNI Siaga I Diperbatasan, Pintu Penyeberangan Darat ke Timor Leste Ditutup
Senin, 26 Pebruari 2007 | 13:24 WIB
TEMPO Interaktif, Kupang:Pemerintah Indonesia menutup sementara seluruh pintu penyeberangan darat ke Timor Leste menyusul penyerangan pos pasukan penjaga perbatasan PBB dan salah satu pos Polisi Nasional Timor Leste di Salele, Distrik Suai, Minggu (25/2) sekitar pukul 19.30 oleh tentara pemberontak pimpinan Mayor Alfredo Reinado.
Penutupan pintu perbatasan darat ini atas permintaan resmi PM. Timor Leste, Jose Ramos Horta kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Minggu malam, atau sesaat setelah insiden penyerangan itu terjadi.
Komandan Pasukan Pengamanan Perbatasan RI, Letkol Inf. J
Hotma Hutahean, yang dihubungi melalui telepon selulernya mengatakan, akibat penyerangan itu, tiga pucuk senjata api milik pasukan PBB dirampas dan 17 senjata api milik Polisi Nasional Timor Leste hilang. "Komandan Pasukan PBB untuk sektor barat Timor Leste Letkol Waka melaporkan tidak ada korban jiwa dalam penyerangan itu. Tetapi semua pasukan PBB langsung ditarik ke pusat kota Suai," katanya.
Dia menambahkan, dengan adanya penutupan pintu perbatasan tersebut, lalulintas penyeberangan darat melalui Kabupaten Belu menuju ke Timor Leste dihentikan sementara sampai keadaan di negara itu kembali normal. Penutupan pintu perbatasan itu, mulai berlaku pada Minggu (25/2) pukul 00.00 Wita, atau Senin (26/2) pukul 01.00 dinihari WIB.
Tiga pintu perbatasan darat yang ditutup yakni Motaain (utara Kabupaten Belu) yang berbatasan dengan Distrik Bobonaro, Turiskain (bagian tengah Belu) dan Metamasin (Selatan Belu) yang berbatasan dengan Distrik Suai.
Menurut Hotma, untuk meyakinkan pemerintah dan pasukan pengamanan Indonesia di wilayah perbatasan, sedikitnya lima orang utusan perwakilan PBB dipimpin Komandan Sektor
barat Pasukan di Timor Leste, Letkol Waka, melakukan pertemuan terbatas dengan militer Indonesia di wilayah Metamasin, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Belu, Senin pagi.
Pertemuan itu antara lain membahas situasi keamanan terkini dan koordinasi pengamanan bersama disepanjang perbatasan kedua negara. "Perwakilan PBB yang dipimpin Letkol Waka meminta kepada TNI/Polri dan masyarakat Indonesia yang menetap digaris depan perbatasan untuk meningkatkan kewaspadaan guna mengantisipasi kemungkinan kaburnya Mayor Alfredo bersama tentara pemberontak ke wilayah Timor barat, NTT.
Menanggapi permintaan perwakilan PBB, TNI langsung menetapkan status siaga 1. "Seluruh personil pasukan penjaga perbatasan Indonesia dalam keadaan siaga tinggi dan melakukan patroli rutin di sepanjang perbatasan," katanya. Dalam pertemuan tersebut, pimpinan utusan perwakilan PBB, Lettkol Waka mengatakan, aparat keamanan Timor Leste dibantu pasukan PBB berhasil mengisolasi Mayor Alfredo di sekitar wilayah pegunungan Distrik Ermera namun belum berhasil dilumpuhkan karena pengikut setianya yang bersenjata lengkap siap menjadi martir.
Mayor Alfredo, mantan Komandan Polisi Militer Timor Leste kabur ke hutan selang beberapa saat setelah Panglima Tentara Nasional Timor Leste memecat sekitar 600 anggota tentara, Februari 2006 lalu. Alfredo yang asli Loromonu (Sektor barat Timor Leste) tidak menerima baik keputusan itu dengan alasan terjadi diskriminasi rasial ditubuh tentara Timor Leste. Dia pernah ditangkap dan dipenjarakan oleh tentara Australia pada April 2006 disebuah penjara militer di Dili, namun kembali kabur ke hutan dengan cara membobol tembok penjara. Dia dituduh sebagai dalang sejumlah tindak kekerasan di negara itu.
Jems de Fortuna
INDEKS BERITA LAINNYA :
|