|
Akibat Krisis Air Bersih, Ratusan Balita Diare
Kamis, 23 Agustus 2007 | 13:36 WIB
TEMPO Interaktif, Kupang:Krisis air bersih di Nusa Tenggara Timur (NTT) satu bulan terakhir mulai berdampak pada kesehatan balita dan anak-anak. Lebih dari 100 balita dan anak-anak di Kota Kupang, Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Utara telah terserang diare setelah mengkonsumsi air yang terkontaminasi bakteri. Belum ada laporan korban tewas.
Sejumlah kalangan merasa khawatir krisis air bersih ini akan terus berlanjut dan mengancam 1 juta penduduk NTT. Di Kabupaten Timor Tengah Utara, penderita diare telah mencapai 50 orang, 11 di antaranya masih menjalani perawatan serius di rumah sakit dan puskesmas. Sementara di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang, jumlah penderita cenderung bertambah dalam sepekan terakhir.
Direktur RSUD Kefamenanu, Timor Tengah Utara, Hartono, membenarkan terjadinya wabah diare di daerah itu. "Ada sekitar 50 balita yang terserang diare. Dugaan sementara, para balita mengkonsumsi air yang telah bercampur bakteri," kata Hartono.
Sejumlah warga mengaku tidak dapat menghindar dari krisis air tahun ini. Apalagi sebagian besar mata air sudah kering sehingga warga terpaksa mengkonsumsi air sungai atau air waduk yang kotor karena menjadi tempat kubangan ternak. "Untuk mempertahankan hidup, air sungai yang kotor pun terpaksa diminum. Akibatnya, anak-anak kami sakit diare," kata Antoneta Maria Suna (34), warga Kecamatan Miomafo Barat, Timor Tengah Utara.
Sebenarnya Pemerintah NTT telah mengeksplorasi air bawah tanah sebanyak 1.316 unit untuk memenuhi kebutuhan air warga. "Tetapi sebagian di antaranya tidak berfungsi karena mata airnya juga kering dan biaya operasional sangat mahal," kata Djibrael Klaping, Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan Pendayagunaan Air Bawah Tanah, Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II.
Jems de Fortuna
INDEKS BERITA LAINNYA :
|