Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Isolasi Selatan Timor Barat Dibuka

Menteri PU Resmikan Jembatan Bantuan Jepang
Jum'at, 14 Maret 2008 | 14:59 WIB

TEMPO Interaktif, Kupang:Atraksi tarian pedang oleh sekelompok warga Kabupaten Timor Tengah Selatan menyambut kedatangan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto bersama Sekretaris Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia, Tasiki Morunaga, bersama Wakil Gubernur NTT Frans Leburaya di Jembatan Menu, yang terletak di selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Ribuan warga nampak ceria dengan kehadiran Menteri PU ke daerah itu. Keceriaan ini terungkap melalui antusiame warga untuk hadir dan menyaksikan sendiri peresmian Jembatan Menu dan Jembatan Fatuat yang dibangun sejak 2006 lalu. Tak heran, saat Menteri PU menandatangani prasasti dan dilanjutkan dengan pengguntingan pita, sorak-sorai warga semakin tak terbendung.

Bupati Timor Tengah Selatan, Daniel Banunaek, yang hadir dalam peresimian itu tak dapat menahan haru. "Penantian panjang warga selama 63 tahun sejak negeri ini merdeka akhirnya terjawab. Selama ini wilayah selatan Timor Barat sangat terisolir sehingga membuat kawasan itu tertinggal jauh. Kini, isolasi fisik daerah dibuka. Ke depan, kawasan ini akan dijadikan pusat perkebunan tebu, ubi kayu dan hasil pertanian lainnya untuk dijadikan bahan dasar etanol. Kami sudah melakukan pendekatan dengan beberapa investor untuk menangkap peluang ini demi kesejahteraan warga," ujarnya.

Menurut Banunaek, dengan dibangunnya dua jembatan oleh pemerintah Jepang dengan dana hibah sebesar Rp 81 miliar, maka mobilisasi warga untuk menjual hasil buminya ke pusat kota serta lalu lintas darat yang menghubungkan sejumlah distrik di Timor Leste, Kabupaten Belu, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Kupang melalui jalur selatan mulai terbuka.

"Saya mengharapkan pemerintah daerah dapat merawat kedua jembatan dengan baik dan memperbaiki jalan yang rusak agar aktivitas warga tidak terganggu di kemudian hari," kata Menteri PU, Djoko Kirmanto, dalam sambutannya.

Menurutnya, tahun ini pemerintah pusat mengalokasikan dana sebesar Rp 44,6 miliar untuk pengembangan jalan di selatan Timor. "Dukungan dana ini membuktikan bahwa kepedulian pusat untuk membuka isolasi wilayah sangat besar. Karena itu, provinsi dan kabupaten perlu mengalokasikan sejumlah dana untuk mendukung pengembangan jalan dan jembatan di daerah-daerah yang masih terisolir," katanya.

Jembatan Menu yang dibangun oleh kontraktor Jepang yang bernaung di bawah Hazama Corporation memiliki panjang 260 meter dengan lebar 6 meter. Konstruksi jembatan beton dengan tebal 22 sentimeter. Sementara Jembatan Fatuat memiliki panjang 124 meter dan lebar 6 meter.

Pekerjaan kedua jembatan di bawah konsultan pengawas Katahira & Engineers Internasitonal Japang. Proyek tersebut merupakan hasil kerja sama pemerintah Indonesia dan pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) pada tahun 2006 lalu.

Sekretaris Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia, Tasiki Morunaga, mengharapkan kedua jembatan tersebut dapat dimanfaatkan dengan optimal untuk peningkatan ekonomi warga sekaligus mendukung transportasi di wilayah selatan Timor. "Pemerintah Jepang telah memberikan kontribusinya untuk proyek ini untuk pengembangan ekonomi dan peningkatan kerja sama kedua negara," katanya.

Saat ini, wilayah Timor Barat yang masih terisolir terdapat di bagian utara yang menghubungkan Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara dan Distrik Oecusi (Timor Leste). Padahal, wilayah tersebut dikenal sebagai pusat peternakan sapi dan perikanan. Jalur utara yang mencapai 300 kilometer dengan 123 sungai sampai dengan saat ini belum diaspal.

Kondisi ini menyebabkan kawasan tersebut sangat terisolir dan sulit dijangkau pada musim hujan. Bupati Kupang, Ibrahim Agustinus Medah, yang dihubungi beberapa waktu lalu megatakan pihaknya telah meminta Gubernur agar mengusulkan jalur utara menjadi jalan negara.

Namun, menurut Menteri PU Djoko Kirmanto, status jalan sebaiknya tidak perlu dipersoalkan. "Yang penting adalah jalan provinsi yang strategis nasional sehingga semua pihak ikut bertanggung jawab untuk pengembangan jalan," ujarnya.

Jems de Fortuna

Dari Arsip Majalah TEMPO
Jembatan Politis Suramadu  | 19 Juli 2004
Lahar Mengancam Jembatan Krasak | 10 Juni 1978
Menangkal Penyakit Jembatan | 07 September 1985
Empat penjuru semanggi | 24 September 1988


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

30 Persen Jembatan di Tangerang Rusak Karena Banjir
Keluarga Tuntut Pencarian Korban Jembatan Ambrol Dilanjutkan
Banjir Putuskan Jalur Solo-Pacitan
Jembatan Suramadu Dipastikan Selesai Desember 2008
Pemerhati Lingkungan Tolak Jembatan Selat Sunda
DPRD Protes Penandatanganan Kesepakatan Jembatan Selat Sunda
Jembatan Selat Sunda Terganjal Masalah Alur Laut
Ratusan Baut Jembatan Musi II Dicuri
Pemerintah Didesak Segara Bangun Jembatan Selat Sunda
Renovasi Jembatan Ampera Habiskan Rp 5 Miliar
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk119252 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

TNI AL Tangkap Kapal Tanker Pembuang Limbah
IPB Kembangkan Sentra Benih Kedelai di Luar Jawa
Diduga Perampok, Mobil Fortuner di Hancurkan Massa
Empat Calon DPD Sumatera Selatan Terancam Gugur
Verifikasi Faktual DPD Lampung Terancam Molor

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data