|
Riau
Malaria Dan Demam Berdarah Masih Mewabah Di Riau
Rabu, 01 Desember 2004 | 15:22 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
PEKANBARU—Dinas Kesehatan Riau mengakui bahwa wabah malaria dan demam berdarah masih berlanjut di wilayah itu, meski tidak sebanyak seperti pertengahan Oktober 2004. Pemerintah setempat memang telah menanggani penyakit itu dengan segenap daya.
Kepala Dinas Kesehatan Riau, Ekmal Rusdy, kepada pers menjelaskan bahwa sejak Oktober hingga sekarang, jumlah korban malaria di wilayah itu sebanyak tujuh orang. Semuanya berdomisili di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Jadi, tidak ada penambahan jumlah korban. Di kabupaten yang sama, jumlah korban demam berdarah sejumlah dua orang.
Selama ini Dinas Kesehatan Riau sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan timbulnya penyakit malaria itu. Seperti, “ Penyemprotan dan obat-obat-obatan sudah disalurkan ke daerah yang terkena wabah seperti di Inhil yang sempat menelan korban jiwa,"kata Ekmal Rusdy kepada pers,ketika menyaksikan aksi damai memperingati Hari AIDS yang digelar para pelajar di Bundaran Jalan Sudirman Pekanbaru, Rabu (1/12).
Menurut Ekmal, dana yang disalurkan untuk penanganan penyakit malaria ke Kabupaten Inhil itu juga cukup besar. Dana yang berasal dari dana Program Kompensasi Pengurangan Baahan Bakar Minyak (BBM) yang dkucurkan untuk Rumah sakit Tembilahan Inhil, kata dia, sudah mencapai Rp269 juta.Bahkan, kata dia, pemerintah Riau sedang mengupayakan terealisasinya Puskesmas keliling air untuk mempercepat pelayanan kepada masyarakat di daerah yang dikenal dengan daerah seribu parit itu.
"Semua upaya sudah dilakukan untuk menekan berlanjutnya wabah malaria di Inhil yang merupakan daerah seribu parit. Alhamdullilah meski masih tetap ada wabah tapi sudah bisa ditekan jumlah korban malaria itu,"katanya.Sejak penyakt malaria mewabah di Inhil, warga setempat termasuk di daerah lain, ramai-ramai memeriksakan diri ke rumah sakit ketika warga mengalami demam.
Akibatnya, kata Ekmal, pemberitaan tentang wabah malaria itu di Riau menjadi lebih bombastis."Kenyataannya dari ratusan orang yang memeriksakan diri karena khawatir diserang malaria, hanya 24 yang dirawat inap dan itu-pun 20 orang lainnya sudah dipulangkan karena sudah dinyatakan bebas dari malaria,"katanya.
Ekmal mengakui bahwa penyakit malaria di Inhil sulit dikikis habis akibat kondisi daerahnya yang memiliki banyak parit."Parit yang memiliki genangan air itu merupakan sumber nyamuk malaria,"katanya
Evalisa Siregar ---Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|