Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Sumatera

Anak Korban Bencana Aceh Diperdagangkan
Senin, 03 Januari 2005 | 04:21 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah minta kepolisian menyelidiki dan menangkap sindikat jual beli anak pengungsi korban gempa dan tsunami di Aceh. Pemerintah akan melindungi dan mengurus semua anak yang menjadi korban bencana itu.

"Tangkap orang yang menjualbelikan anak korban bencana gempa dan tsunami,” kata Bachtiar dengan geram, Minggu sore, di Posko Bencana Gempa dan Tsunami Aceh, Pangkalan TNI Angkatan Udara Kelapa Sawit, Polonia, Medan. “Pemerintah dalam hal ini melarang adopsi anak dan harus ada izin Menteri Sosial," dia menambahkan.

Masalah jual beli anak merebak sejak dua hari terakhir, setelah ada sindikat perdagangan anak yang diduga berkeliaran di posko nasional bencana. Seorang pengurus Perkumpulan Aceh Sepakat, Masdani, di area pengungsi posko nasional mengungkapkan adanya kemungkinan jual beli anak-anak itu. "Lihat saja seorang ibu itu yang kehilangan anak," katanya menunjuk seorang ibu yang duduk termenung.

Tak sepatah kata pun keluar dari ibu yang tampak trauma itu, ketika Tempo mencoba bertanya. Menurut Masdani, ibu tersebut hanya salah satu dari beberapa orang tua yang kehilangan anak-anaknya.

Sejumlah relawan menyebutkan, ada indikasi beroperasinya sindikat berkedok yayasan yang menampung balita korban bencana alam Aceh, kemudian menerbangkannya ke daerah lain. Anggota sindikat itu datang ke posko-posko atau menjemput anak-anak korban langsung ke Aceh. “Ada juga yang datang ke posko di Medan, mengaku sebagai orang tua atau kerabatnya,” kata Rosa, seorang relawan di Medan.

Komisi Nasional Perlindungan Anak minta Departemen Sosial serius menangani nasib anak-anak yang ada di pengungsian. "Upaya mengambil dan memindahkan anak harus distop," kata Seto Mulyadi, Ketua Komnas Perlindungan Anak.

Penanganan anak, menurut Kak Seto, harus dikelola satu pintu oleh Departemen Sosial karena kondisi saat ini sangat rentan terjadinya child trafficking meskipun dengan alasan adopsi. "Situasi sekarang adalah kondisi darurat. Jadi kalau ada evakuasi pun sifatnya darurat untuk menghindarkan anak dari situasi yang tidak kondusif seperti udara yang tidak sehat, tersedianya makananan, kesehatan, listrik dan lain-lain."

Yayasan Pemantau Hak Anak juga minta pemerintah mengambil tanggung jawab pemeliharaan anak-anak korban bencana sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945, dan tidak mengalihkan tanggung jawabnya kepada masyarakat dengan membuat program anak angkat atau anak asuh. (Bambang Soed/Hambali/Agus Supriyanto)


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Korban Gempa Meninggal di Rumah Sakit Akibat Terinfeksi Berat
Bupati Pecat Camat yang Tak Becus Urus Korban Tsunami
Adam Air Gratiskan Biaya Angkut Bantuan ke Aceh
Adiguna Sutowo Resmi Jadi Tersangka
Penahanan Adiguno Sutowo Pindah ke Polda
Bantuan Korban Bencana Rawan Dikorupsi
Pegawai Negeri Sulawesi Tenggara Potong Gaji untuk Aceh
Kontras Kirim Bantuan ke Aceh Lewat Darat
Nelayan Mulai Mencari Ikan di Perairan Aceh
PKS Berangkatkan 1.000 Relawan ke Lokasi Bencana
> selengkapnya...


Referensi

Inikah Gempa Itu?

Website

Blog Khusus Tsunami Aceh
Palang Merah Indonesia
Kementerian Riset dan Teknologi
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [3]


Berita Terakhir

Pasokan Daya Listrik PLN Tidak Transparan
Ratusan Pengusaha Tionghoa Nyatakan Dukungan Pada Yudhoyono
Presiden Optimistis Indonesia akan Jadi Lumbung Padi
Dua Pejabat Kutai Kertanegara Ditahan
Suara NU Tentukan Putaran Kedua Pemilihan Gubernur Jawa Timur

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data