|
Lampung
Ribuan Rumah di Lampung Masih Kebanjiran, Empat Tewas
Jum'at, 21 Januari 2005 | 22:45 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ribuan rumah di Lampung saat ini masih terendam banjir. Tinggi air bervariasi, antara setengah hingga tiga meter. Akibatnya, sebagian para korban banjir tidak dapat merayakan Idul Adha. Biasanya, setiap Idul Adha, warga membuat ketupat, gulai daging, dan berbagai macam kue. "Jangankan membuat kue. Untuk makan hari ini saja, kami dikirim oleh keluarga yang tinggal di kampung tetangga," kata Dewi, warga Kampung Bugis, Kota Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, Jum'at (21/1).
Ibu tiga anak itu mengatakan, sudah sepekan ini, rumah mereka terendam banjir hingga tiga meter. Untuk menyelamatkan diri dan mengamankan barang-barang, mereka harus membuat semacam panggung-panggung darurat di depan dan di dalam rumah. "Biasanya kalau lebaran, rumah kami dipenuhi kue-kue. Sekarang malah rumah kami sangat berantakan, dengan tumpukan perabot di sana-sini. Kami saja pusing melihatnya, tapi apa lagi yang harus dilakukan," katanya pasrah.
Hal yang sama juga dikemukakan Ratna Dewi, 45 tahun. Dia bersama tiga orang anaknya, hanya bisa duduk termangu di bagian dapur, sambil meminum secangkir tea. "Biasanya kalau lebaran, ada sirup dan kue-kue. Ini kami hanya minum teh dan masak mi rebus," ujarnya.
Ratna mengaku, di lemari dapurnya ada dua potong kue kiriman menantunya dari kampung lain. "Tapi kue itu tidak kami makan. Kalau ada tetangga yang datang, baru kami keluarkan," katanya. Ratna juga mengaku tidak berkeinginan bersilaturahmi ke rumah-rumah tetangga,seperti biasanya. "Untuk keluar rumah saja susah, harus naik perahu. Lagian tetangga-tetangga juga kondisinya sama seperti saya, sedang prihatin," ujarnya.
Andi, 10 tahun, mengatakan tidak kecewa karena ibunya tidak memasak ketupat. "Biasanya kalau lebaran banyak makanannya. Tapi karena banjir, tidak ada ketupat dan kue. Saya juga tidak punya baju baru," kata murid kelas empat sekolah dasar itu.
Sementara itu hujan yang turun terus menerus sepekan terakhir, juga telah menewaskan empat orang warga di Lampung. Korban tewas itu adalah Pat Atunoh, 45 tahun, Mulyadi, 11 tahun, Padri 10 tahun (ketiganya warga Tulang Bawang), dan Masdudin Tomo, 45 tahun, warga Lampung UTara. Mereka tewas akibat
terseret air sungai yang meluap.
Banjir yang paling banyak merendam rumah warga adalah di kabupaten Tulang Bawang. Di daerah itu, ada tiga sungai dari kabupaten Lampung Utara dan Way Kanan, yang mengalirkan air ke sungai Tulang Bawang. Sebuah waduk di Lampung Utara juga terpaksa dibuka karena airnya melimpah, dan mengalir ke Tulang Bawang. "Sungai dan waduh dari daerah lain itu masuk ke Sungai Tulang Bawang. Akibatnya, karena tidak mampu menampung, sungai Tulang Bawang jebol dan
menyebar ke rumah-rumah penduduk," kata Lamijiono, ketua DPRD Tulang Bawang.
Fadilasari-Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|