|
Banda Aceh
Pendidikan Lingkungan Bagi Anak-anak Korban Tsunami
Rabu, 26 Januari 2005 | 11:33 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sekitar 65 persen anak-anak yang tinggal di kompleks pengungsian Sekolah Calon Tamtama (Secata), Mata'ie, Aceh Besar, kehilangan salah satu anggota keluarganya. Angka ini diperoleh dari pendataan yang dilakukan Mustafa, salah satu pengungsi yang menjadi koordinator pendidikan darurat untuk anak-anak korban gempa dan tsunami.
Di kompleks pengungsi Secata ini, ada 210 anak-anak yang tinggal di dalam tenda-tenda. Untuk mengisi kegiatan mereka, Mustafa bersama istrinya, Lindawati, mengadakan pendidikan darurat bekerja sama dengan sejumlah institusi dan lembaga swadaya masyarakat dalam dan luar negeri. Diantara mereka adalah Sekolah Rakyat, Baitulmal Muamalat, dan Sampoerna Foundation. "Kini tetesan air mata anak-anak tidak ada lagi," ujar Mustafa, kepada Tempo, Rabu (26/1).
Di kompleks Secata ini, Sampoerna Foundation memberikan tenda dan perlengkapan pendidikan, seperti tas, buku bacaan dan menyediakan relawan untuk mendidik anak-anak. Selain itu selama tiga hari, Sampoerna juga mendatangkan Andi Yudha Asfandiyar, pendongeng dari Mizan, Bandung untuk memberi pendidikan. Ikut juga Aulia, yang mengkoordinir relawan untuk mengajarkan pendidikan lingkungan.
Untuk pembiayaan Sekolah Tenda Darurat itu, Sampoerna Foeundation menganggarkan biaya Rp 15 juta untuk
jangka waktu 6 bulan. Setelah di Secata, Mata'ie, Sampoerna pekan depan akan mendirikan 30 sekolah lainnya di lokasi pengungsian di Kabupaten Aceh Barat.
Untung Widyanto--Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|