|
Ratusan Hektare Lahan dan Hutan di Riau Terbakar
Kamis, 09 Agustus 2007 | 18:01 WIB
TEMPO Interaktif, Riau:
Sekitar 929 hektare lahan dan hutan di Provinsi Riau terbakar pada periode Juni-Juli lalu. Sebagian besar kawasan yang terbakar ini merupakan semak belukar dan lahan kosong milik masyarakat.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Rachman Siddik kepada Tempo, Kamis (9/8), mengatakan lahan dan hutan yang terbakar ini berada lima kabupaten dan kota di Riau, yakni Indragiri Hulu, Pelalawan, Pekanbaru, Rokan Hilir dan Dumai.
”Dari sejumlah daerah tadi, luasan lahan yang terbakar paling banyak terdapat di kabupaten Rokan Hilir. Ada sekitar 700 hektare lebih lahan kosong dan semak belukar di daerah tersebut yang hangus dilahap api. Indikasinya sejauh ini lahan tersebut sengaja dibakar untuk pembukaan perkebunan”, kata Rachman.
Lahan yang terbakar hebat di Rokan Hilir yakni di Desa Kampung Pulau Sedang Kecamatan Simpang Kanan. Pada 29 Juni lalu, sekitar 600 hektare lahan di kawasan tersebut hangus dilahap api. Kemudian pada 8 Juli, di kabupaten yang sama, tepatnya di Desa Tanjung Medang, Kecamatan Simpang Pujud, sekitar 100 hektare lahan juga terbakar.
Sedangkan di Kota Pekanbaru, sebagian besar lahan yang terbakar terletak di Kecamatan Minas. Sekitar 51 hektare lahan di daerah perbatasan Kota Pekanbaru dan Kabupaten Siak ini juga habis di lahap api. Lahan yang terbakar di Kota Pekanbaru terjadi pada periode 11-25 Juni.
Pihak BBKSDA mengindikasikan lahan kosong dan semak belukar ini dulunya merupakan kawasan pelepasan hutan. Atau, status lahan ini sebelumnya merupakan kawasan yang dibebani sejumlah izin seperti Hak Pengusahaan Hutan.
Sejumlah lahan ini kemudian diambilalih masyarakat ketika izin tersebut sudah habis, dan status selanjutnya belum ditentukan Departemen Kehutanan. ”Kami juga mengindikasikan, masyarakat dibantu oknum aparat kepala desa dan camat setempat dalam mengambilalih lahan tersebut,” jelasnya.
Dari pantauan satelit National Oceanographic Atmospheric Adminsitration (NOAA) 18, jumlah titik api di Riau meningkat tajam dari 41 pada Selasa (7/8) menjadi 113 titik pada Rabu, (8/8). Sebagian besar titik api ni, kata Rachman, terpantau di lahan perusahaan perkebunan, Hak Pengusahaan Hutan dan Hutan Tanaman Indsutri.
Setidaknya Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Kuantan Singingi, Pelalawan, Kampar, Siak, Dumai, dan Rokan Hilir masih menjadi daerah langganan munculnya titik api di Riau.
Sejumlah titik api itu di antaranya ditemukan di areal perusahaan perkebunan PTPN V yang berada di Indragiri Hulu. Di areal tersebut satelit NOAA mencatat ada delapan titik panas yang kemungkinan besar diakibatkan kebakaran lahan.
Satelit NOAA juga mencatat delapan hotspot yang muncul di lahan Hutan Tanaman Industri PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Kabupaten Pelalawan. “Yah, kami minta kepada perusahaan untuk menjaga dan memadamkan api di areal konsesinya”, kata Rachman.
Menanggapai munculya banyak hotspot ini, Yuneldi, Deputi Fire and Safety Aviation PT RAPP mengatakan kebakaran lahan yang terjadi di Pelalawan bukan berada di areal konsesi perusahaan ini, melainkan lahan kosong di Kecamatan Langgam, atau sekitar 20 kilometer dari lokasi pabrik. ”Memang lahan yang terbakar itu berbatasan dengan areal konsesi HTI kami. Namun itu bukan lahan kami. Meskipun demikian kami tetap berupaya memadamkan api di lahan yang terbakar tersebut”,
kata Yuneldi.
Saat ini, tambahnya, satu tim beranggotakan 15 pemadam kebakaran PT RAPP sedang berupaya memadamkan api di lahan tersebut. Ia mengakui, daerah tersebut memang menjadi langganan kebakaran lahan setiap tahun.
Pada Rabu (8/8), tim pemadam Riau Pulp, kata Yuneldi, berhasil memadamkan api di Kecamatan Ukui. Sekitar 0,5 ha lahan masyarakat yang berbatasan dengan konsesi HTI Riaupulp berhasil dipadamkan. Hingga Kamis, (9/8), tambah Yuneldi, tidak ditemukan hotspot di areal konsesi HTI PT RAPP.
Sementara Kepala Hubungan Masyarakat PTPN V Riau Badran Yai membantah bila hotspot juga ditemukan di lahan perkebunannya. Menurutnya, setelah di cek ke Dinas Perkebunan Indragiri Hulu dan pengecakan lokasi, tidak ada titik api di lahan yang dimaksud oleh hasil pantauan satelit NOAA 18.
“Kemungkinan besar, kebakaran yang terjadi dan terpantau satelit merupakan lahan perkebunan milik masyarakat. Memang perkebunan milik masyarakat ini bermitra dengan PTPN V. Tapi bukan lahan kami. Perusahaan ini juga mempunyai kebijakan untuk tidak membakar dalam pembersihan lahan”, jelasnya. Bobby Triadi
INDEKS BERITA LAINNYA :
|