|
Lebih 200 Rumah Hancur Akibat Gempa Mentawai
Sabtu, 01 Maret 2008 | 12:17 WIB
TEMPO Interaktif, Padang:Kerusakan infrastruktur akibat gempa 7,2 skala Richter (SR), Senin (25/2), dan 7,0 SR, Selasa (26/2), lalu di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, lebih parah daripada akibat gempa yang terjadi September lalu. Sekitar 200 rumah hancur.
Informasi korban gempa di sejumlah desa dan dusun belum diketahui, meski sudah hampir seminggu pascagempa. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai kesulitan memantau.
Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kortanius Sebeleakek, melalui telepon, Sabtu (1/3), mengatakan baru tiga dari 10 desa di Pulau Pagai yang diketahui informasinya, sedangkan tujuh desa lainnya belum diketahui.
Ketiga desa itu adalah Saumanganyak, Matobek, dan Sikakap. Di Desa Saumanganyak di 3 dari 11 dusun saja terdata 50 rumah penduduk rusak berat dan seluruh fasilitas pemerintah hancur.
“Kemarin kami meninjau tiga dusun di Desa Saumanganyak, di sana fasilitas pemerintah hancur semua, kantor camat pemekaran Kecamatan Pagai Utara yang baru selesai dibangun rusak berat, begitu juga dengan puskesmas dan sekolah dasar,” kata Kortanius.
Sedangkan di Desa Matobek, berdasarkan laporan aparat desa, 155 rumah penduduk dan sebagian besar fasilitas pemerintah desa dan publik rusak. Kondisi kerusakan diperparah karena bangunan di sana yang sudah rusak sedang dan rusak ringan akibat gempa September 2007 belum diperbaiki. Sedangkan di Desa Sikakap 17 rumah penduduk dan dua sekolah rusak berat.
Selain lebih 200 rumah rusak berat, gempa juga menyebabkan seorang anak laki-laki berumur 11 tahun di Saumanganyak tewas terhimpin dinding rumah baru yang belum diatap. Selain itu, juga meninggal seorang balita perempuan berumur 1,2 tahun akibat muntaber di pengungsian.
Saat dihubungi, Kortanius dan rombongan Pemkab Mentawai sedang bertolak untuk perjalanan lebih 1 jam dengan perahu motor 1.000 PK milik Pemkab Mentawai ke Dusun Guluk-guluk yang berada di utara Pulau Pagai untuk melihat kondisi penduduk di sana.
“Saya memaklumi belum adanya data dari 7 desa lainnya dan 8 dusun di Saumanganyak, sebab lokasi masing-masing dusun dan desa sangat jauh dan hanya bisa ditempuh lewat laut lebih satu jam. Aparat dusun dan desa pun masih sibuk mengurus keluarga mereka dan juga takut menempuh laut,” kata Kortanius.
Ia menambahkan, penduduk sudah mulai beraktivitas secara normal, meski sebagian masih tidur di tenda di perbukitan jika malam hari. Sejumlah sekolah terpaksa libur karena kekurangan tenda untuk belajar. Para korban yang rumahnya rusak berat sebagian besar tinggal menumpang di rumah sanak-saudara terdekat. Hanya beberapa keluarga yang tinggal di tenda.
“Kami terus keliling melihat kondisi tiap desa sambil membawa bantuan. Yang penting sekarang bantuan tenda, selimut, air bersih, logistik, obat-obatan, dan bahan bakar minyak untuk motorboat yang mesti ditambah. Ke depan kami akan mengupayakan bagaimana seluruh bangunan di Mentawai dari kayu dan jauh dari pantai,” katanya.
Febrianti
INDEKS BERITA LAINNYA :
|