|
Sumatera Barat Siaga Bencana 24 Jam
Rabu, 12 Maret 2008 | 10:49 WIB
TEMPO Interaktif, Padang:Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi telah memerintahkan semua posko siaga bencana di provinsi itu untuk siaga 24 jam menyusul laporan ahli geologi tentang potensi baru ancaman tsunami dari pesisir timur Kepulauan Mentawai.
Gamawan Fauzi kepada Tempo mengatakan sudah memanggil pimpinan instansi terkait, seperti Kesbanglinmas, Dinas Kesehatan, dan Dinas Sosial untuk mengecek dan mengontrol posko siaga bencana agar berfungsi 24 jam.
”Siaga 24 jam perlu dilakukan karena seperti pendapat ahli geologi, tsunami bisa saja terjadi hanya 1 menit. Jika kita lengah, maka korban akan lebih besar,” ujarnya hari ini (12/3).
Gubernur juga memerintahkan ketiga instansi tersebut untuk menyampaikan laporan setiap bulan tentang stok obat dan peralatan kesiagaan bencana.
“Saya juga akan meminta agar penekanan tombol sirine peringatan tsunami secara manual juga diberikan kepada kabupaten/kota sehingga bila peralatan yang dari provinsi macet, maka kabupaten/kota bisa mengambil tindakan segera,” katanya.
Kamis minggu lalu sejumlah geolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Institut de Physique du Globe, Paris, yang meneliti kelautan Pre-Tsunami Investigation of Seismic Gap (PreTI-Gap) melansir temuan yang mengejutkan.
Mereka menemukan bahaya longsor di tebing dasar laut di sepanjang 500 kilometer pada segmen timur laut Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Longsor berpotensi terjadi sewaktu-waktu itu dapat memicu tsunami, walaupun karena gempa dengan skala kecil. Tsunami dalam waktu cepat bisa terjadi tanpa diawali surutnya air laut.
Tsunami tersebut bisa terentang sampai radius 100 kilometer dan melaju 750 kilometer per jam dan melabrak daratan di pesisir Sumatera, seperti Padang dan Bengkulu.
Ini ramalan tsunami yang jauh lebih berbahaya dibanding ramalan lain yang sebelumnya disampaikan ahli geologi tentang kemungkinan pantai barat Sumatera Barat dilanda tsunami akibat gempa besar yang disebabkan tumbukan lempeng eurosia. Tsunami itu hanya dapat dipicu gempa besar di atas 6,5 skala Richter dan diawali dengan tanda-tanda surutnya air laut.
Febrianti
INDEKS BERITA LAINNYA :
|