Formulasi Kompetisi IBL Perlu Diubah
Rabu, 28 Desember 2005 | 12:37 WIB
TEMPO Interaktif, Solo:Klub bola basket Bhineka Sritex Solo merasa kompetisi yang digelar Indonesian Basketball League (IBL) tidak memiliki gairah lagi.
Karena itu pemilik klub Bhineka, Halim Sugiarto mengusulkan perubahan formasi kompetisi IBL. "Setelah ditangani IBL justru tidak lagi ada gregetnya seperti ketika Kobatama yang ditangani pihak ke tiga," kata Halim kepada Tempo, Rabu (28/12).
Menurut dia, pertandingan-pertandingan yang digelar
di luar kota tempat klub berasal tidak memberikan
keuntungan apapun bagi klub basket. Bahkan, klub harus
tombok lantaran IBL hanya menanggung biaya transportasi dan akomodasi, di luar makan dan uang saku pemain.
"Tapi sampai sekarang uang itu juga belum kami terima meski tahun ini kompetisi sudah selesai," ujarnya.
Rencananya IBL 2006 akan dilangsungkan di 15 kota.
Selain di kota-kota yang memiliki klub basket yakni
Jakarta, Bandung, Solo, Surabaya, Malang, dan Medan
pertandingan IBL juga akan digelar di luar kota
tersebut, seperti Lombok dan Ambon.
"Idealnya pertandingan kompetisi itu home and away (kandang dan tandang), sehingga klub juga mendapatkan keuntungan. Kami sebenarnya sudah mengusulkan itu," ujar Halim. Dengan sistem pertandingan kandang dan tandang, klub akan mendapatkan menambah pemasukan dari pertandingan kandang.
Dengan alasan tidak lagi memiliki gairah, Bhineka
tidak melakukan persiapan khusus untuk menyambut
kompetisi IBL. Menurut Halim, Bhineka juga tidak
akan muluk-muluk memasang target. "Lha mau bagaimana lagi wong setiap tahun kami harus selalu tombok. Kalau klub besar punya banyak sponsor," ujar dia. Imron Rosyid




Komentar Anda :