Sejarah Besar Plymouth
Sabtu, 10 Maret 2007 | 19:39 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Plymouth Argyle baru sekali mencapai semifinal Piala FA dalam 121 tahun sejarah klub itu, yaitu pada 1984 ketika kalah 0-1 oleh Watford. Hari ini keduanya bertemu lagi dalam kejuaraan yang sama dalam perempat final di kandang Plymouth, Stadion Home Park.
Meski Watford sedang terpuruk di urutan kedua terbawah dalam Liga Primer Inggris, Manajer Plymouth Argyle Ian Holloway menampik tim dari Championship (divisi I, setingkat di bawah Liga Primer) itu minimal bisa meraih hasil seri. "Lawan kami itu sangat berbahaya dan pantang menyerah."
Plymouth satu-satunya tim non-Liga Primer dalam perempat final Piala FA. Pertandingan hari ini adalah laga terbesar klub itu sejak berhadapan dengan Watford di Villa Park 23 tahun lalu.
Waktu itu Watford masih menjadi klub papan atas Liga Primer di bawah asuhan pelatih Graham Taylor, yang kemudian menjadi manajer tim nasional Inggris. Bintang klub itu antara lain penyerang Inggris, John Barnes.
Sedangkan Plymouth kala itu masih di divisi III sepak bola Inggris. Tapi klub tersebut mengatasi kelemahan teknik dengan semangat juang dan hanya kalah gara-gara sundulan George Reilly. Namun, Watford kemudian kalah oleh Everton di final.
Pemain legenda Plymouth Argyle, Tommy Tynan, yang tampil pada pertandingan 1984, yakin Argyle bisa membalas kekalahannya dari Watford hari ini. "Watford tidak suka bermain di sini karena Argyle selalu bermain bagus di Home Park," kata Tynan, yang sekarang seorang sopir taksi.
Tapi Barnes optimistis kepada Watford. "Saya berharap Watford terus melaju, meski Piala FA selalu menjadi kejuaraan yang bermutu tinggi," kata Barnes, yang menikmati suksesnya di Liverpool setelah meninggalkan Watford.
Manajer Watford Aidy Boothroyd semula masih memikirkan nasib timnya yang terancam kembali ke Championship musim depan. Tapi kini dia sudah memusatkan konsentrasinya untuk meraih sukses di Piala FA.
"Tentu laga akan berlangsung ketat. Ian Holloway bakal berusaha menampilkan Argyle seperti yang kami kerjakan pada musim lalu (ketika Watford memenangi promosi ke Liga Primer), yaitu mengutamakan etos kerja keras." l AFP | SKY SPORTS | PRASETYO





