Blue Energy, Super Toy, Lalu Apa?
Sabtu, 06 September 2008 | 00:53 WIB
Dulu ada proyek blue energy. Ini proyek mimpi mengubah air biasa menjadi pengganti bahan bakar minyak. Sungguh, proyek yang tidak main-main. Sebuah pabrik dibangun di Cikeas, dekat kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Rencana besar pun disusun. Temuan hebat ini akan diumumkan secara resmi oleh Presiden pada perayaan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, 20 Mei lalu. Tapi, tunggu punya tunggu, air bensin tak kunjung muncul.
Apa yang terjadi? Tak usah dibahaslah, karena lumayan memalukan. Mana mungkin air begitu mudah diubah menjadi bahan bakar? Hasil yang pasti adalah Djoko Suprapto, penemu "bahan bakar air" itu, kini menjadi tersangka kasus penipuan. Dengan proyek yang sama, dia diduga menipu sebuah universitas swasta di Jawa Tengah.
Lalu sekarang ada proyek Super Toy. Nah, ini mimpi lain lagi. Konon, ada padi varietas baru yang sungguh hebat. Bibit padi super ini disebut sangat produktif sehingga bisa dipanen tiga kali setahun dengan hasil 15 ton gabah per hektare. Jika benar, ini tentu luar biasa. Bayangkan, padi sekelas IR64 saja cuma bisa dipanen sekali dengan hasil hanya 6-7 ton gabah per hektare. Presiden yang notabene doktor dari Institut Pertanian Bogor pun tertarik, sampai-sampai memerlukan datang untuk menghadiri panen raya pada April lalu.
Sukses? Tunggu dulu. Setelah "panen raya" yang dihadiri Presiden itu, pada panen kedua padi Super Toy ternyata menjadi letoy, loyo. Bulir-bulirnya kopong alias puso. Petani yang lahannya digunakan sebagai tempat menanam Super Toy pun marah. Mereka menuntut ganti rugi Rp 22,5 miliar. Mereka juga kapok menanam padi aneh itu.
Bukan kebetulan, kedua proyek itu punya beberapa kesamaan. Kesamaan pertama, blue energy dan Super Toy dipromosikan oleh perusahaan yang dimiliki orang yang sama. Di kedua perusahaan ini, Heru Lelono, Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah, duduk sebagai komisaris.
Kesamaan berikutnya, entah bagaimana caranya, Presiden sampai memberi perhatian khusus pada kedua proyek ini. Padahal, lembaga penelitian resmi seperti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, atau Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian belum pernah melakukan uji ilmiah. Kesamaan lainnya, ya itu tadi, kedua proyek ini sama-sama gagal.
Di dunia ilmu pengetahuan, gagalnya sebuah penelitian sebenarnya tidak terlalu aneh. Ada proses panjang, proses trial and error berkali-kali yang harus terus diuji oleh mereka yang berkompeten. Barulah, apabila lolos tahap ini, sebuah eksperimen pantas dipamerkan. Itu pun masih harus diuji lagi oleh publik sampai benar-benar bisa dinyatakan layak.
Dalam kasus blue energy, dan sekarang Super Toy, prosedur itu diterobos. Sayangnya, terobosan gagal ini dan membuat Istana terseret. Mestinya lembaga kepresidenan lebih cermat. Jangan sembarangan meng-endorse sebuah eksperimen yang secara ilmiah belum teruji. Dua kali dipermalukan seperti ini sudah lebih dari cukup.





