Perang Bunga, Ekonomi Melambat

Senin, 08 September 2008 | 00:18 WIB

MUSIM bank memasang imingiming bunga deposito tinggi datang lagi. Kalau tren ini berlangsung lama, pertumbuhan ekonomi bisa melambat. Dengan bunga deposito di atas 11 persenhampir dua kali lebih besar dibandingkan dengan tiga bulan lalupastilah pemilik uang lebih suka “beternak” bunga bank ketimbang berinvestasi di dunia usaha yang mengandung risiko. Ancaman terhadap pertumbuhan lebih serius karena yang ikut jorjoran bukan hanya bankbank kecil, melainkan juga yang kelas kakap.

Ternyata yang menyedot dana masyarakat bukan hanya bank. Bank Indonesia belakangan ini ikut sibuk menarik dana masyarakat untuk mengerem laju inflasi yang masih di atas target dengan menaikkan suku bunga. Bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) kini sudah bertengger di angka 9,25 persen, padahal pada April lalu masih 8 persen. Suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk jangka satu bulan juga sudah 9,28 persen, jauh di atas posisi akhir April yang masih 7,99 persen.

Dana masyarakat dikhawatirkan “kering” karena pada saat yang sama pemerintah juga sedang getol menjual surat utang negara untuk menutup defisit anggaran. Tahun ini defisit mencapai Rp 94,5 triliun, tahun depan bahkan diperkirakan menembus Rp 100 triliun. Untuk menambalnya pemerintah mengandalkan surat utang negara, karena utang luar negeri “diharamkan”.

Akibat bank sentral dan pemerintah samasama berebut dana masyarakat, perbankan pun kini kesulitan menjaring deposan. Cara bersaing yang paling mudah adalah menaikkan suku bunga simpanan, meskipun cara ini menabrak ramburambu suku bunga pinjaman. Saat ini Lembaga Penjamin Simpanan hanya menjamin deposito dengan bunga maksimal 8,75 persen.

Memang langkah Bank Indonesia bisa sedikit menjinakkan inflasi. Pada Agustus lalu, inflasi hanya 0,5 persen, sementara pengamat meramalkan inflasi menembus 1 persen. Perebutan dana masyarakat ini, jelas, tidak sehat. Dampak yang pasti segera datang adalah meningkatnya suku bunga kredit. Dunia usaha bakal kelimpungan setelah sebelumnya dihantam kenaikan harga energi.

Pemerintah mesti waspada. Meskipun pertumbuhan ekonomi pada semester pertama tahun ini 6,4 persenmelampaui ekspektasi banyak pihakkondisi ini bukan tanpa catatan. Tingginya bunga kredit, jelas, merupakan sinyal bahwa pertumbuhan paruh kedua tahun ini tidak akan sepesat paruh pertama. Paling tidak, kemampuan swasta sebagai salah satu motor penting pertumbuhan ditaksir akan menurun.

Danareksa, misalnya, mencatat pertumbuhan sektor manufaktur cuma 4,1 persen. Sektor pertambangan, minyak, dan gas malah negatif. Kalangan industri semen memperkirakan permintaan akan melambat dibandingkan semester lalu yang mencapai 19 persen. Belum lagi bila diingat permintaan dunia cenderung menurun, sehingga bisa menekan ekspor Indonesia. Beberapa indikasi ini mengharuskan pemerintah berbuat sesuatu untuk menutup tekor di sektor swasta ini.

Pemerintah mesti lebih banyak mengucurkan dana untuk menggiatkan dunia usaha. Hal ini dimungkinkan karena tekanan terhadap anggaran dari harga minyak dunia agak kendur. Harga minyak sudah US$ 106 per barel. Bukan itu saja. Dana pemerintah di Bank Indonesia masih Rp 170 triliun akibat rendahnya realisasi anggaran paruh pertama tahun ini. Pemerintah daerah pun masih menyimpan duitnya di Bank Indonesia sekitar Rp 32 triliun.

Kalau saja semua dana yang “parkir” itu dikerahkan untuk menggerakkan perekonomian, perlambatan ekonomi barangkali bisa dicegah.

***