Amburadulnya Angket Century

Sabtu, 27 Februari 2010 | 01:35 WIB

Khalayak tentu bingung mencermati kesimpulan sementara Panitia Angket

Bank Century. Beberapa fraksi di panitia ini mengungkap indikasi pelanggaran hukum dalam proses penyelamatan Century pada 2008. Mereka kemudian meminta penegak hukum mengusutnya. Kalau memang hanya begini hasilnya, kenapa tidak sejak awal kasus ini diserahkan saja ke penegak hukum?

Wajar orang bertanya seperti itu karena, sebelumnya, Badan Pemeriksa Keuangan melakukan audit investigasi terhadap kebijakan penyelamatan Bank Century, yang menelan dana Rp 6,7 triliun. Polisi pun sudah mengusut kejahatan pemilik bank. Komisi Pemberantasan Korupsi juga mulai menelisik kemungkinan adanya korupsi dalam kasus ini.

DPR bukannya tidak boleh menggelar angket. Para legislator jelas berhak menyelidiki kasus Century, bahkan membawa kasus ini ke Mahkamah Konstitusi bila memang memungkinkan. Masalahnya, para politikus Senayan sejak awal kurang cermat menakar persoalan Century.

Sebagian dari mereka lebih terdorong oleh nafsu politik untuk melengserkan Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kedua petinggi ini dianggap bertanggung jawab atas penyelamatan Century. Boediono saat itu menjabat Gubernur Bank Indonesia sekaligus anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan, lembaga yang diketuai Sri Mulyani. Jangan heran jika sejumlah politikus telah menuntut kedua pejabat itu dinonaktifkan sekalipun angket baru dimulai.

Mengumbar nafsu politik tidaklah terlarang karena mereka memang politikus. Hanya, tujuan ini sulit dicapai lantaran penyelamatan Century tidak bisa disalahkan, apalagi dianggap melanggar undang-undang. Anggota Panitia Angket boleh saja ngotot menyatakan bahwa dampak sistemik tidak akan muncul andaikata bank ini tak diselamatkan. Tapi argumen ini amat lemah dan bertentangan dengan pendapat kalangan perbankan yang mengalami sendiri kejadian itu.

Para politikus Senayan juga lupa bahwa kebijakan itu diambil oleh pemerintah periode sebelumnya. Sungguh aneh jika Wakil Presiden Boediono dimintai pertanggungjawaban atas kebijakan yang diambil ketika dia menjadi Gubernur BI. Bukankah kebijakan ini telah dipertanggungjawabkan oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono periode lalu? Bahkan SBY, yang berpasangan dengan Boediono, kemudian dipercaya lagi oleh rakyat untuk memerintah. Hal ini membuat DPR kesulitan membawa kasus Century ke MK dengan tujuan memakzulkan Wakil Presiden.

Itulah yang membuat angket kehilangan arah. Boediono dan Sri Mulyani hanya bisa dilengserkan jika mereka melakukan korupsi. Sekalipun dilakukan pada masa lalu, kejahatan ini bisa menjadi dasar pemakzulan atau pencopotan petinggi. Para politikus kemudian mengaduk-aduk kasus Century, mulai tahap merger hingga penyelamatan. Tapi tetap saja tidak ditemukan indikasi bahwa Boediono dan Sri Mulyani menerima suap atau terlibat korupsi.

Sulit untuk tidak mengatakan hasil Angket Century sia-sia karena temuan mereka hanya akan dianggap masukan bagi penegak hukum sebagaimana hasil investigasi BPK. Menyalahkan secara terbuka para pejabat yang mereka anggap berdosa tanpa disertai bukti yang cukup tak ada gunanya. Ini justru membuka motif sebenarnya para politikus dan membuat masyarakat semakin kecewa.

Komentar

    semoga tuhan melaknat anggota pansus, bikin rakyat bingung.....negara dibikin maen-maen. coba lihat sekarang anggota pansus, lapangan golf penuh dengan warga malasia, singapura, begitu juga hotel-hotel. bangsa pribumi bisanya mengoyak-ngoyak yang sudah ada, coba kawal yang baik negara ini sehingga negara bisa menyelenggarakan pembangunan sehingga rakyat bisa sekolah yang pandai sehingga mereka2 jadi tenaga profesional.

    hehehe...nanti rakyat bisa memakzulkan anggota pansus karena telah buang2 uang negara 2-3 milyar hanya utk pekerjaan sia2 ini kecuali hasilnya hanya nafsu....majulah indonesia . . . negaraku tercinta . . .

    hehehe...nanti rakyat bisa memakzulkan anggota pansus karena telah buang2 uang negara 2-3 milyar hanya utk pekerjaan sia2 ini kecuali hasilnya hanya nafsu....majulah indonesia . . . negaraku tercinta . . .

    Amat terlihat jelas bahwa nafsu politis yang kelewat besar dari para politisi senayan mencerminkan masih rendahnya logika berpikir wakil rakyat itu. Sungguh suatu ongkos yang mahal, untuk sebuah kasus yang tanpa pansuspun sudah gamblang. Ibarat tontonan, hasil nol besar biayanya kolosal.

    Telur ayam perlu menunggu 21 hari dierami induknya untuk dapat menetas. Benih padi menunggu 140 hari baru siap dipanen. Biji mangga menunggu 6 tahun untuk dapat menghasilkan buahnya. Pohon jati ada yang ditunggu selama 25 tahun agar hasilnya memuaskan jangan nggege mongso, jangan tergesa-gesa, tunggulah saatnya tiba.
    Kalau ingin Berkuasa, tunggulan saatnya Pemilu, Sabar......, kalo begini, terlihat sekali, tak dapat menahan nafsu,.........

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan