Diana Krall Berbagi Kenangan
Rabu, 08 Oktober 2008 | 11:27 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Diana Krall semringah. "Saya diberi tahu, penonton di sini pendiam," kata Krall dari atas panggung di Ballroom Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Minggu malam lalu. Ternyata, "Itu tidak benar." Ucapannya disahuti tawa lebih dari 2.500 penonton.
Sehari sebelumnya, di hadapan wartawan, bos Java Festival Production Peter F. Gontha, yang menghadirkan Krall, memang mengatakan kepada Krall bahwa penonton jazz Indonesia agak pasif dan pendiam. Krall manggut-manggut.
Hal ini telah mengejutkan penyanyi sekaligus pianis jazz asal Kanada itu. Dalam minimnya cahaya ruangan seluas lapangan sepak bola, persembahan Krall selama hampir dua jam memperoleh sambutan meriah. Sesekali, celetukan penonton menimpali kata-kata Krall dari atas pentas.
Malam itu, Krall naik panggung lewat 15 menit dari pukul 8. Ia berpakaian hitam. Tiga musisi lain mengiringinya: basis Robert Leslie Hurst III, gitaris Anthony Jay Wilson, dan drumer Emmanuel Karriem Riggins. Tembang pertama yang disuguhkan adalah Love Being Here with You.
Selanjutnya, penonton dibawa menyimak Let's Fall in Love. Krall sempat tampak kaget ketika terdengar suara "kresek" dua kali dari pengeras suara. Tapi konsentrasinya tak buyar. Jemarinya terus menari di atas tuts-tuts piano.
Dalam lagu ini, Wilson, 40 tahun, mendapat giliran solo unjuk kebolehan memainkan gitar klasik bersenar nilon. Berkat bakat luar biasa, Wilson pernah diberi lima bintang penuh oleh majalah jazz Downbeat. Dia pernah bermain untuk Chris Botti, Al Jarreau, dan orkestra jazz Clayton-Hamilton.
Setelah memainkan lagu itu, Krall sempat berbincang sejenak dengan penonton. Kemudian, pencahayaan panggung yang minimalis berubah dari cyan menjadi merah bernuansa jingga seiring dengan alunan lagu The Look of Love. Dentum bas Hurst memberi warna samba pada lagu yang cukup populer di radio-radio di Indonesia ini.
Lagu selanjutnya adalah I'll String Along with You. Kemudian disusul Deed I Do. "We're gonna rehearse," kata Krall. Lagu berlirik minim ini memang dibuat untuk menonjolkan unsur instrumental. Dibuka dengan solo piano Krall, para musisi bergiliran mendapat giliran nge-jam pamer bakat.
Krall sempat berbagi kenangan dengan penonton setelah melantunkan Let's Face the Music and Dance. Dia bercerita soal tempat asalnya, Nanaimo di bagian barat Kanada, tentang dua putra kembarnya, juga tentang sang suami, Elvis Costello, yang juga seorang penyanyi.
Dia bercerita, suatu kali ketika ia remaja, dalam perjalanan dengan mobil bersama ibunya, ia mendengar sebuah lagu di radio. "Enak juga, ya, lagu ini," katanya kala itu kepada sang ibu. "Ternyata bertahun-tahun kemudian penyanyi itu menjadi suami saya," tuturnya.
Setelah sekitar lima menit Krall bercerita, ia kembali menyuguhkan lagu Exactly Like You, A Case of You, dan Devil May Care. Pada lagu Devil May Care, drumer Riggins, 33 tahun, sempat unjuk kebolehan. Aplaus pun menggema.
Riggins bukan sembarang drumer. Ia ternama di ranah jazz. Riggins juga dikenal sebagai produser hip-hop untuk Erykah Badu, misalnya. Dia sudah mendampingi sejumlah nama selebritas semacam Betty Carter dan Oscar Peterson.
Pada lagu selanjutnya, Gee Baby, Ain't Good to You, giliran basis Hurst unjuk gigi. Hurst mencabik bas kayu tak ber-frets dengan mata tertutup. Tepuk tangan pun menggema.
Hurst, yang merayakan ulang tahun ke-44 di Jakarta pada Sabtu malam lalu, adalah dosen bas di University of Michigan. Empat penghargaan Grammy telah ia raih. Mei lalu, dia mengiringi Chris Botti tampil di Jakarta.
Setelah membawakan lagu itu, sambil beristirahat, Krall kembali bercerita. Ia mengaku senang berada di Jakarta dan berjanji akan kembali lagi membawa suaminya bersama kedua putranya. Ia ingin mengenal lebih jauh Jakarta.
Tak lama, ia kembali mendendangkan I Don't Know Enough About You. Itu adalah lagu ke-11. Setelah itu, Krall dan kawan-kawan berpamitan. Sebagian pengunjung mulai bubar seiring dengan menghilangnya Krall ke belakang panggung.
Tapi teriakan "encore!" dan standing applause yang membahana membuat Krall dan kawan-kawan kembali ke panggung. Dua lagu kembali dinyanyikan: S' Wonderful dan East of the Sun.
Ini adalah kedua kalinya Krall ke Jakarta. Pada 2002, ia datang tanpa memberi suguhan encore (lagu tambahan). "Sudah aplaus, ditungguin, nggak keluar-keluar," kata Peter F. Gontha mengenang saat itu. Menjawab Gontha, Krall berkilah enam tahun lalu itu ia sedang tak mood.
Kali ini beda. Ia bisa memuaskan dahaga musik penggemarnya. "Memukau," kata Rianita, 27 tahun, seorang penonton. Karyawan sebuah perusahaan energi asing itu tak menyesal merogoh kocek dan memotong libur Lebarannya. Harga tiket Krall dipatok Rp 500 ribu hingga Rp 2,5 juta.
Ibnu Rusydi
Topik :






Komentar Anda :