Depresiasi Rupiah Masih Rendah
Rabu, 08 Oktober 2008 | 17:54 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta : Bank Indonesia (BI) menilai depresiasi rupiah masih rendah dan berada dalam batas yang normal, yaitu sekitar dua persen. Bank sentral berkomitmen akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas pergerakan rupiah supaya tetap pada range yang normal.
Deputi Gubernur Senior Miranda Swaray goeltom mengatakan nilai tukar rupiah merupakan aspek penting yang harus dipantau dan diwaspadai pergerakannya karena pengaruhnya bisa melebar ke inflasi. "Nilai tukar rupiah secara year to date rata-rata baru terdepresiasi 2 persen, sementara mata uang lain rata-rata terdepresiasi hingga 4 persen," kata miranda di gedung Bank Indonesia Jakarta, Rabu (8/10).
Mata uang lokal ini relatif terjaga di level 9.500-an per dolar di tengah kisruhnya pasar saham dalam negeri. Pada perdagangan valuta asing pukul 16.30 WIB, Rabu (8/10) rupiah melemah 35 poin ke posisi 9.595 per dolar Amerika Serikat.
Menurut Miranda, pelemahan yang terjadi pada rupiah merupakan sesuatu yang wajar mengingat besarnya gejolak yang terjadi di pasar keuangan global. "Selama pergerakannya teratur dan tidak menimbulkan ketidakpastian baru itu masih wajar," ujarnya. Untuk itu, BI akan terus berada di pasar guna menghindari volatilitas dan gejolak yang berlebihan supaya tidak menimbulkan kegelisahan baru.
Sementara itu, pengamat pasar uang Farial Anwar menilai perbandingan pelemahan rupiah dengan menggunakan persentase justru akan membingungkan. Sebab, dibandingkan mata uang negara-negara tetangga seperti Thailand atau singapura nilai tukar rupiah nominalnya mencapai ribuan per dolar Amerika Serikat.
"Pelemahan satu persen rupiah, nilainya bisa banyak, kalau pelemahan mata uang Thailand atau singapura persentasenya lebih tinggi tetap saja nominalnya kecil," ujar dia.
Eko Nopiansyah
Topik :






Komentar Anda :