Bank Syariah Perlu Perbanyak Produk
Sabtu, 11 Oktober 2008 | 06:41 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Perbankan syariah diminta memperbanyak varian produk yang menarik minat masyarakat agar tetap bisa berkembang di tengah persaingan bunga perbankan konvensional yang menggiurkan masyarakat.
Direktur Perbankan Syariah Bank Indonesia Ramzi A Zuhdi mengatakan bank syariah harus kompetitif dan cepat merespon perkembangan pasar sehingga tidak tertinggal perkembangannya.
"Bank syariah harus menghilangkan hambatan klasik dalam sumber daya manusia dan diversifikasi produk," kata Ramzi di gedung Bank Indonesia Jakarta, Jumat (10/10).
Terkait kondisi likuiditas di tengah gejolak pasar keuangan global, lanjut dia, tidak terjadi masalah berarti bagi bank-bank syariah sebab dalam prinsip syariah lembaga-lembaga keuangan dilarang melakukan transaksi derivatif.
Data publikasi Bank Indonesia per Juli lalu menyebutkan sebagian besar indikator utama perbankan syariah mengalami kenaikan 40 persen lebih. Hingga Juli lalu, pembiayaan bank syariah tercatat meningkat signifikan sekitar 49 persen menjadi Rp 35,19 triliun dari periode sama tahun lalu Rp 23,687 triliun.
Sementara penghimpunan dana pihak ketiga Juli lalu tercatat meningkat sekitar 42 persen menjadi Rp 32,898 triliun dari Rp 23,232 triliun per Juli tahun lalu. Adapun aset bank syariah per Juli lalu meningkat sekitar 45 persen menjadi Rp 43,479 triliun dari Rp 29,9 triliun per Juli 2007.
Dari total dana pihak ketiga bank syariah per Juli lalu, tabungan mudarabah menghimpun Rp 11,072 triliun atau 33,66 persen, sedangkan per Juli tahun lalu sekitar Rp 7,525 triliun atau 32,39 persen. Porsi deposito bank syariah per Juli lalu mengalami penurunan tipis menjadi 52,48 persen dari 53,28 persen.
Dari total bagi hasil bank syariah untuk investor tidak terikat per Juli lalu, sebanyak Rp 955,433 miliar disalurkan bagi pihak ketiga bukan bank. Pihak dimaksud adalah nasabah giro, tabungan, dan deposito bank syariah. Sementara sebanyak 25,487 miliar disalurkan bagi bank-bank lain.
BI juga akan mengaktifkan fasilitas gadai (rahn) untuk menjaga kecukupan likuiditas perbankan syariah. Pasalnya, kenaikan BI rate dan persaingan bunga simpanan bank-bank konvensional menggerus likuiditas perbankan syariah.
Menurut Ramzi, rencana pengaktifan instrumen tersebut saat ini tengah digodok BI. "Kita kaji terus sambil mencari apakah ada instrumen lain yang bisa dipakai untuk mengatasi masalah likuiditas bank-bank syariah. Untuk saat ini kami belum tahu waktu pengaktifan instrumen gadai tersebut," ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa konsep instrumen gadai itu adalah bank-bank syariah yang membutuhkan likuiditas segera, bisa menggadaikan surat-surat berharga syariah yang dimiliki ke BI dalam jangka waktu tertentu. "Bisa satu atau dua hari, sama seperti fasilitas repo pada bank konvensional. Tapi sampai sekarang kami masih kaji batas waktunya," ujar dia.
Gadai atau ar-rahn adalah menyimpan sementara harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diberikan oleh yang meminjamkan. Berarti, barang yang dititipkan pada si piutang dapat diambil kembali dalam jangka waktu tertentu. Pegadaian syariah menerapkan beberapa sistem pembiayaan, antara lain qardhul hasan (pinjaman kebajikan) dan mudharabah (bagi hasil).
Ramzi mengatakan pihaknya tengah memikirkan berbagai konsep untuk membantu likuiditas perbankan syariah. Pasalnya, kondisi likuiditas bank-bank syariah saat ini sangat ketat akibat terkena imbas dari persaingan bunga simpanan perbankan konvensional untuk menggaet masyarakat menaruh dananya guna memenuhi kebutuhan likuiditas.
Kenyataan tersebut disikapi bank-bank syariah dengan ikut menaikkan persentase bagi hasil simpanan dengan nasabah. "Biasanya jumlah bagi hasil simpanan di bank syariah berada di kisaran 7-8 persen, tapi sekarang sudah ada yang di atas 10 persen," ujar dia.
Ramzi mengakui kenaikan persentase bagi hasil simpanan itu merupakan efek perang suku bunga di bank konvensional. Sebab, kalau bank-bank syariah tidak ikut menaikkan, nasabahnya kemungkinan akan menarik dana dari simpanan syariah dan dialihkan ke bank konvensional untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi.
Eko Nopiansyah
Topik :






Komentar Anda :