Pemerintah AS Akan Membeli Saham Bank
Sabtu, 11 Oktober 2008 | 09:19 WIB
TEMPO Interaktif, Washington: Pemerintah AS berencana untuk melakukan investasi langsung (pembelian saham) ke bank-bank AS untuk pertama kali sejak masa Depresi Besar.
Menteri Keuangan Henry Paulson mengatakan langkah itu sebagai perluasan fokus rencana penyelamatan senilai US$ 700 miliar.
"Kami akan melakukannya sesegera mungkin semampu kami dan melakukannya secara efektif," ujar Paulson ketika ditanya tentang rencana pembelian saham perbankan itu.
"Tidak ada keraguan dalam pikiran kami, dengan besarnya masalah ini, bahwa kami dapat menggunakan uang pajak secara lebih efektif dan efisian, jika kami mengembangkan program terstandar untuk mendorong partisipasi saham," tambahnya.
Rencana penyelamatan pemerintah AS senilai US$ 700 miliar yang telah disetujui minggu lalu awalnya berfokus pada masalah likuiditas perbankan dengan penawaran untuk membeli aset-aset yang bermasalah.
Pernyataan Paulson itu menunjukkan bahwa Kementerian Keuangan yang awalnya menolak ide ini telah mengakui kebutuhan investasi langsung di bank-bank bermasalah yang tidak dapat menarik modal baru dari investor swasta.
Analis dan pejabat mengatakan ada preseden pemerintah AS membeli saham Perusahaan Pembiayaan Rekonstruksi yang diciptakakan selama masa Depresi Berat ketika ribuan bank bangkrut.
Paket penyelamat yang disebut Program Pemulihan Aset Bermasalah (Troubled Asset Relief Programme/TARP), sejauh ini telah gagal menenangkan investor atau mengembalikan kepercayaan dalam sistem keuangan. Indeks-indeks utama bursa saham AS telah jatuh 18 pesen selama seminggu.
Implementasi kebijakan membutuhkan waktu karena kompleksitas masalah yang terjadi, namun Paulson mengatakan para pejabat berwenang bekerja sepanjang waktu untuk menangani masalah itu.
Paulson mengatakan pembelian aset bermasalah dapat membutuhkan waktu beberapa minggu dan dia belum memberikan jadwal program pembelian saham itu. Dia juga menolak mengomentari jumlah uang yang akan dikeluaran untuk membeli aset bermasalah dibandingkan pembelian saham.
AFP/Erwin
Topik :






Komentar Anda :