Pasar Cemas dan Panik
Sabtu, 11 Oktober 2008 | 10:03 WIB
TEMPO Interaktif, Paris: Para pedagang saham dari Tokyo hingga London dan New York mengatakan gejolak keuangan telah membuat pasar berada dalam kondisi kecemasan yang tidak rasional terkait situasi pedagangan saham terburuk dalam sejarah seminggu ini.
Para pedagang membenamkan wajah di balik tangan mereka, seakan tak mampu menyaksikan indikator saham yang meluncur tajam Jumat pagi. Pandangan serupa terjadi di berbagai belahan dunia saat bursa dibuka.
Indeks Nikkei Tokyo jatuh 24,33 persen dalam seminggu yang merupakan perdagangan terburuk dalam 50 tahun keberadaannya. Indeks Dow Jones jatuh delapan hari berturut-turut, dan bursa London mengalami perdagangan terburuk sejak penarikan besar-besaran 1987.
"Saya belum pernah melihat hal seperti ini dan saya berharap tidak melalui hal seperti ini kembali," ujar Valerie Plagnol, Direktur Strategi Credit Muutel CIC di Paris, terkait kejatuhan saham dan krisis kredit yang tengah berlangsung.
"Ini merupakan minggu yang panjang dalam sejarah pasar keuangan," kata Joshua Raymond, ahli strategi di City Index, London. "Apa yang terjadi saat ini bukan hanya perulangan sejarah. Jika anda memperhatikan setiap peristiwa yang terjadi, kita telah membuat preseden yang sama sekali baru."
Dana talangan US$ 700 miliar pemerintah AS, paket US$ 800 miliar pemerintah Inggris, serta pemotongan suku bunga oleh tujuh bank sentral, nampak tidak bekerja. Para investor berupaya menyelamatkan diri secara massal.
"Pasar telah menunjukkan adalah sangat naif berasumsi bahwa talangan perbankan Inggris dan pemotongan suku bunga minggu ini akan mengubah pasar secara instan. Kepercayaan pasar membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dibangun, sementara perlu berjam-jam untuk menghancurkannya," kata Raymond.
"Ini banjir darah," kata Hiten Agarwal, pialang Angel Broking di Bombay.
Kerusakan yang meluas ke pasar komoditas secara cepat menyebar ke seluruh perekonomian. "Pasar berjalan dengan penuh kecemasan, yang meliputi hal fundamental," kata Nimit Khamar, pialang Sucden di London, berbicara tentang pasar minyak di mana harga sekarang jatuh di bawah US$ 80 per barel.
Hampir semua pedagang mengatakan akhir dari krisis hanya akan terjadi saat akhir penghentian pinjaman kredit. Saat ini, kata Matt Buckland, pedagang CMC Markets, hal itu belum terlihat menyusul upaya masif dari bank-bank sentral.
AFP/Erwin
Topik :






Komentar Anda :