Anggaran Negara 2009 Tetap Defisit
Kamis, 16 Oktober 2008 | 06:45 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Jakarta - Panitia Anggaran DPR dan pemerintah menyepakati Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2009 tetap defisit. "Besarnya Rp 52,7 triliun atau 1 persen dari pendapatan domestik bruto," kata Wakil Ketua Panitia Anggaran Suharso Monoarfa dalam rapat kerja Rabu (15/10) malam di gedung parlemen, Senayan.
Target defisit ini lebih kecil dibanding angka yang diusulkan pemerintah yaitu Rp 71,3 triliun atau 1,3 persen. Defisit yang disepakati juga lebih rendah daripada revisi pertama tanggal 24 September 2008 sebesar Rp 91,8 triliun atau 1,7 persen.
Suharso mengatakan Fraksi PDI Perjuangan sebenarnya ingin defisit mencapai angka nol. Tapi, karena manajemen fiskal pemerintah masih buruk, stimulus fiskal gagal mendorong pertumbuhan ekonomi.
Alokasi cadangan fiskal dan struktur pembiayaan belanja yang bersifat cash transfer seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebaiknya direalokasikan pada program padat karya di pedesaan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menanggapi manajemen fiskal pemerintah selalu dihadapkan pada kesulitan antara memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan versus versus urgensi untuk mempercepat fiskal. Anggaran BLT masih diperlukan selama tiga bulan untuk melindungi masyarakat. "Kami mohon BLT tidak dipotong," pintanya.
Dalam rapat anggaran itu, Sri Mulyani memuji parlemen yang menginginkan defisit berkurang. Umumnya di negara-negara berkembang, menjelang pemilihan umum parlemen justru ingin memperbesar defisit. Tapi, sebaliknya dengan parlemen Indonesia. "Kita harus mengapresiasinya. Ini pujian yang tulus," ujarnya.
Pendapatan negara tahun depan disepakati Rp 982,7 triliun, turun dari Rp 1.003,2 triliun yang diusung pemerintah. Penurunan perkiraan penerimaan negara berasal dari penurunan Pajak Penghasilan (PPh) Minyak bumi dan gas, juga Penerimaan Negara Bukan Pajak, yang diakibatkan perubahan asumsi dasar harga ICP dari US$ 95 per barel pada revisi pertama ke US$ 80 per barel.
Sedangkan belanja negara ditargetkan Rp 1.035,4 triliun, selisih Rp 39 triliun dari usul pemerintah yang sebesar Rp 1.074,5 triliun. Penurunan belanja disebabkan pula oleh berubahnya asumsi harga ICP. Selain itu, turunnya asumsi SBI 3 bulan dari 8,0% yang diputuskan tanggal 24 September lalu menjadi 7,5% juga turut berpengaruh menurunkan perkiraan belanja. Bunga Manggiasih
Topik :






Komentar Anda :