Menikmati Musim Panas di Longwood Garden
Senin, 13 Oktober 2008 | 14:33 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Longwood Garden, musim panas, akhir Agustus tahun lalu. Taman di Kota Philadelphia itulah yang hendak saya sambangi ketika saya berkunjung ke Amerika Serikat. Saya ingin menikmati pengalaman istimewa di taman yang istimewa yang jadi kebanggaan orang Amerika itu. Saya ingin menyaksikan bunga-bunga yang bermekaran sepanjang tahun, tanpa mengenal empat musim.
Berada di antara New York dan Washington, Philadelphia adalah kota terbesar di negara bagian Pennsylvania. Terletak pada pertemuan Sungai Delaware dan Schuylkill, kota itu dikenang sebagai "The Cradle of America" karena rangkaian sejarah kemerdekaan negeri adikuasa itu terjadi di kota ini. Beberapa museum dan peninggalan bersejarah menjadi obyek wisata.
Salah satu daya tarik kota cantik ini adalah Longwood Garden. Bertetangga dekat dengan Kenneth Square yang bersejarah, Longwood yang berpayung ratusan pohon raksasa ini memiliki panorama alam yang luar biasa.
Hari masih pagi, pukul 08.15 waktu setempat. Dari rumah Betty Garfield di wilayah Queens New York, saya meluncur ke arah selatan, menuju Philadelphia, sejauh 160 kilometer. Bersama sopir taksi yang dipilihkan Betty--kawan lama yang menyediakan tempat menginap--perjalanan saya terasa nyaman.
Taksi yang saya tumpangi terus melaju pada pagi yang masih sepi itu. Sebelum sampai Longwood, Freddie Zimmitti, sopir taksi keturunan Italia, sempat mengantar saya ke pusat keramaian di muara Sungai Delaware. Sopir kocak yang wajahnya mirip penyanyi pada 1990-an, Billy Joel, itu mengarahkan langkah saya menuju bentangan sungai yang ditandai dengan nama Penn's Landing. Kata Freddie, di situlah pendiri Kota Philadelphia, William Penn, dari Inggris berlabuh untuk pertama kali pada 1682.
Melanjutkan perjalanan, Freddie menyimak cerita saya mengenai kegemaran saya pada keindahan alam. Matanya berkejap-kejap sewaktu saya bercerita pernah berkunjung ke Taman Villa d'Este, dekat Danau Como, Italia. Percakapan semakin seru sewaktu saya mengenang Luxembourg Jardin di Paris, juga kunjungan saya ke Kirsten Bosch di Cape Town, Afrika Selatan, yang punya wilayah khusus untuk pengunjung tunanetra.
Mobil meluncur ke jantung kota. Freddie sengaja mengurangi kecepatan agar saya dapat menyimak keterangannya sepanjang perjalanan menuju taman kota. "Gedung ini adalah City Hall, dan di puncak atap itu Anda bisa melihat patung William Penn," ujarnya.
Saya melongok dari jendela mobil dan melihat patung perunggu penemu wilayah ini, setinggi sekitar 1,67 meter.
"Selain kota penuh sejarah, ada 90 museum dan 8 universitas terkemuka di sini," tutur Freddie, dengan nada New Yorker yang kental.
"Itukah Longwood Garden?" tanya saya penasaran sewaktu melihat dari kejauhan rimba di tengah kota. Pohon-pohon raksasa, dililit bunga menjalar warna-warni, mengisyaratkan bahwa taman itu memiliki kondisi alam yang menyenangkan.
Freddie menghentikan taksi, bergegas membukakan pintu, tapi ia menahan langkah saya. "Siapa aktor utama film Pretty Woman?" tanya sopir yang mengaku jebolan salah satu universitas di kota itu.
"Richard Gere," jawab saya.
"Pemeran seorang bapak dalam film serial keluarga Amerika yang berprofesi sebagai dokter kandungan?"
"Bill Cosby."
"Satu lagi, Madame, nama istri Pangeran Rainier dari Monaco?"
"Grace Kelly." Kali ini saya berteriak.
Sebuah kejutan bagi saya.
"Karena Anda dapat menjawab pertanyaan itu, karcis masuk saya traktir."
Saya terdiam sejenak. US$ 17? Dia yang belikan? Saya ragu tapi tetap mengikuti langkahnya menuju pintu gerbang. Freddie tidak bercanda. Di bawah gerbang melengkung yang sarat dijalari bunga geranium merah saga dipadu petunia seputih salju itu, Freddie menyodorkan tiket.
Setelah menjabat tangan saya, ia membiarkan saya masuk sendiri dan menghilang di balik semak rhododendron merah jambu. Saya melangkah memasuki pintu gerbang teduh, berselimut bunga Piedmont azalea berwarna shocking pink dan Flowering Longwood putih yang menyebarkan aroma campuran kembang melati dan gardenia.
Bertambah jauh saya menelusuri taman yang terawat rapi ini, bertambah kagum saya dibuatnya. Di taman itu, ada banyak tempat yang menarik dikunjungi. Beberapa rumah kaca untuk koleksi anggrek, krisan, tanaman tropis, kaktus, tulip, palem, pakis-pakisan, kolam teratai, taman pohon pangkas, kolam air mancur, rumah Pierre du Pont; semua menggugah rasa penasaran. Mengingat kemampuan kaki yang terbatas, saya memutuskan memilih beberapa tempat saja.
Longwood Garden, seluas sekitar 140 hektare dengan 300 petugas lapangan, tak bisa dilepaskan dari nama Pierre S. du Pont. Sebab, taman ini merupakan warisan berharga dari miliarder asal Prancis itu. Du Pont dikenang sebagai pengusaha sukses dalam pengelolaan pabrik tepung yang amat memuja keindahan dan kelestarian alam.
Pada 1905, Du Pont membuka lahan untuk kompleks bangunan pabrik tepungnya di kawasan Brandy Wine, Long Wood, Pennsylvania. Ia berkukuh melarang buldoser yang akan meratakan lahan yang berdekatan dengan gedung pabriknya itu. Ia jatuh hati pada "rimba" kecil yang penuh dengan pepohonan berukuran raksasa dan semak-semak bunga aneka warna.
Usut punya usut, rimba terbengkalai itu milik keluarga George Pierce, imigran asal Inggris. Ia membelinya dari William Penn (pendiri kota ini) pada 1700. Tanah warisan George Pierce ini akhirnya jatuh ke tangan cucu kembarnya, Joshua dan Samuel Pierce. Pada 1798, mereka berdua menanami lahan sekitar rumah dengan ratusan pohon majestica.
Lima puluh tahun kemudian, berkat ketelatenan mereka, dengan pohon-pohon pelindung dan kaveling bunga warna-warni, rimba kecil itu menjelma menjadi taman rekreasi untuk umum yang tertata rapi. Namun, akhirnya taman cantik ini terbengkalai sampai Du Pont membelinya pada 1906. Lalu Du Pont mendesain lanskap lahan itu dengan cermat dan dengan cita rasa tinggi. Ia bercita-cita agar rimba cantik itu dari waktu ke waktu menjelma menjadi ajang gaul relasi bisnisnya.
Seperti yang saya lihat sewaktu memasuki gerbang Italian Water Garden, gaya penataan lengkap dengan water basin dan air mancurnya mengingatkan saya pada panorama taman-taman di Villa Gamberaia dekat Kota Florence, Italia. Rumput menghijau di sela-sela basin dan latar belakang pergola yang dililit rapat oleh kembang Alpine forget me not berwarna biru benhur, sementara snow butter cup, yang bernuansa kuning kemilau, bersembulan sepanjang pergola setengah lingkaran.
Dari jarak 2 meter, saya menghirup aroma khas kembang mawar. Rose Garden menyambut saya dengan hamparan bunga warna merah anggur, putih, merah jambu, dan kuning. Semuanya terdiri atas mawar merekah. Bisa jadi Du Pont terilhami oleh permadani mawar milik Cleopatra di waktu menyambut kedatangan kekasihnya, Marck Anthony.
Main Fountain Garden yang ada di sisi utara merupakan perpaduan taman Inggris dan Prancis. Pahatan batu berbentuk kepala demon dan singa tampak di seputar air mancur. Tercatat 200 pompa air mendukung kelangsungan air muncrat yang mempesona itu. Percikannya mengembun di permukaan wajah saya.
Bunga-bunga liar warna-warni yang hanya tumbuh di kawasan prairie, seperti smooth aster ungu, blinking star merah cabai, dan prairie wild rose yang mirip kancing manik-manik oranye, tumbuh di sela-sela batu alam yang ditata secara alami. Penataan itu pasti dipelajari dengan teliti, memindahkan ekologi, agar tumbuh senang di sana.
Flower Garden Walk yang berpagar bunga tulip menuju kawasan danau alam yang bersembunyi dalam kepungan pohon berukuran raksasa. Jalan lengang beralas batu gunung itu dipagari oleh rumpun kembang begonia yang sarat berbunga. Sementara itu, batang-batang menjulang dari kembang morning glory ungu bersembulan di sana-sini. Serasa berada di negeri mimpi!
Meninggalkan danau tenang dengan pantulan rimba pepohonan di permukaannya, panah penunjuk arah menuntun saya menemukan kolam-kolam buatan yang penuh dengan kembang teratai jenis Victoria yang rajin berbunga dengan daun sebundar nyiru (diameter 1,5 meter), yang menarik perhatian para pengunjung. Jenis mungil berwarna putih, ungu, dan kuning mewakili spesies Nyamphaea colorata, yang menggemaskan kerumunan wisatawan yang melintas.
Tempat terakhir kunjungan saya ke taman itu adalah Peirce Du Pont House, yang bentuk arsitekturnya ala Quaker, dibangun pada 1730. Halaman rumah tua itu dipayungi puluhan pohon raksasa, antara lain Cinna monu camphorium (sejenis pohon kamper dari Cina) dan Ficus macrophylla (sejenis pohon karet dari Australia). Ruang kerjanya masih ditata sebagaimana aslinya. Benda-benda pribadi tergeletak di meja kerja. Tiga bingkai kacamata dan sebuah buku tentang flora ada di sana.
Freddie sempat bercerita bahwa setiap Sabtu, pada musim panas, ada pementasan Philadelphia Orchestra. Beruntung kunjungan saya itu pada saat diadakan pementasan, yang diselenggarakan di alam terbuka, dibatasi dua kelompok Topiary Garden yang rapi terpangkas. Panggung luas itu menjadi tempat pertunjukan para pemusik orkes yang terkenal. Berkostum merah cerah, tampak kontras di antara kehijauan pohon sekitar.
Sayup-sayup irama instrumentalia lagu Summer Time sampai ke telinga saya. Serasa menyihir saya segera mendekati panggung. Saya pun terbuai oleh permainan gesek para pemusik.
Matahari musim panas perlahan-lahan bersembunyi di angkasa biru. Perut yang keroncongan dengan spontan menerima jejalan hoagies--sandwich khas favorit Philly, terdiri atas empat lapis roti irisan tebal dan besar. Saya terpaksa membuka mulut lebar-lebar sewaktu melahap sandwich berukuran maxi ini.
Freddie dan mobilnya sudah menanti di ujung Elfreth's Alley di pusat kota. Saya menyusuri jalan tertua di Amerika, yang dibangun pada 1703, dengan perasaan sentimental. Saya mesti melanjutkan perjalanan menuju Washington untuk menghadiri pesta pertunangan putri kawan saya yang bermukim di kota itu.
Dalam perjalanan, saya mengintip bulan di langit Philadelphia. Sinarnya yang keperakan membias tepat di topi William Penn yang bertengger di puncak atap City Hall.
Yatie Asfan Lubis, Penikmat Perjalanan, Tinggal di Jakarta
Topik :






Komentar Anda :