Merambah Malam di Sudut-Sudut Hong Kong
Selasa, 19 Mei 2009 | 14:05 WIB
TEMPO Interaktif, Hong Kong: Di kota judi ini, kekaguman pertama saya tertuju pada Bandara Internasional Makau, yang sungguh cantik: bersih, berdesain megah, berinterior cantik, dan para pekerjanya profesional. Sejak masih mengudara, dari jendela pesawat yang saya tumpangi awal Maret lalu saya menyaksikan warna-warni sinar yang memantul di lautan yang mengepung bandara ini.
Sayang, hanya sebentar saya mengagumi Makau. Bersama tiga teman dari Jakarta, kami harus bergegas menuju Kowloon, Hong Kong, dengan menyeberangi perairan menggunakan feri. Untuk menuju Terminal Feri Makau, kami memutuskan menggunakan bus berkode API sebagaimana saran petugas informasi. Tak lupa petugas itu membekali kami dengan secarik kertas kecil dengan tulisan tangan berhuruf Mandarin.
Belakangan kami ngeh bahwa mayoritas warga Makau tidak fasih berbahasa Inggris. Mereka berbicara dalam bahasa Mandarin dan Portugis. Secarik kertas itu akan berguna untuk bertanya. Maka kami jaga baik-baik barang keramat itu. Bahkan seorang teman memotretnya, jaga-jaga kalau kertasnya hilang.
Jarum jam sudah mengarah ke angka sembilan waktu setempat ketika kami tiba di Terminal Feri Makau. Saat hendak membeli karcis di depan loket penjualan tiket feri, kami disergap rasa bingung. Sebab, selain petugas resmi di loket, di depan loket berdiri perempuan paruh baya yang juga menjual tiket, yang anehnya malah lebih murah. Ternyata dia calo. Dan kami pun membeli tiket pada calo yang lancar berbahasa Inggris itu.
Kami tertawa geli sesudahnya ketika mengingat kami masih sempat-sempatnya menawar lebih rendah lagi.
Setiba di Terminal Feri Kowloon--setelah berlayar dengan kecepatan tinggi dalam waktu kurang-lebih 45 menit--kami mencari daerah Jordan, tempat kami akan bermalam. Kertas kecil hasil cetakan dari Internet yang menggambarkan posisi tempat kami akan menginap menuntun kami berjalan kaki. Namun, setelah merasa tersesat, kami putuskan untuk menggunakan kereta bawah tanah yang disebut MTR (Mass Transit Railway), dengan merogoh kocek HK$ 4 (sekitar Rp 5.350).
Saya terkejut. Hong Kong, kota yang sepertinya tidak menyimpan kantuk dan payah itu, pukul 10 atau 11 malam terasa seperti di Jakarta pukul 5 sore. Trotoar dipenuhi orang berlalu lalang, amat padat. Toko-toko dan rumah makan belum berkemas. Transportasi publik masih ramai mengangkut beragam orang baik dengan busana kerja maupun pakaian santai.
Bukan main! Di tengah suhu 16 derajat Celsius, banyak perempuan bergaya dengan pakaian terbuka: rok mini dan hot pants. Di tengah malam, mereka tanpa takut berjalan berdua, bahkan sendiri, di trotoar yang dibuat remang dari jutaan sinar, baik dari lampu jalanan maupun papan nama toko atau restoran. Sekalipun di trotoar-trotoar itu pula berjejer panti pijat plus-plus, kelab malam, dan hotel prostitusi. Hong Kong sebagai kota pusat perdagangan dan mode di Asia sudah jauh dari kesan kumuh dan “Bronx”. Maka, tak aneh bila cewek-cewek itu berani berjalan sendirian menyusuri trotoar.
***
KELUAR dari Stasiun Jordan melalui pintu C-2 yang mengarah ke Nathan Road, terlihat papan nama City Econo Guesthouse menyembul malu-malu di tengah kepungan belasan papan nama lain yang dibiarkan semrawut. Pemandangan khas Hong Kong.
Kami masuk lewat sebuah gedung bergang sempit dan bertangga hingga menemui sebuah lift tua yang deritnya sering mengejutkan. Pikiran ragu akan nyamannya guest house ini lenyap mendadak ketika suasana di lantai 6, lantai tempat City Econo Guesthouse berada, meramahi kedatangan kami. Seorang perempuan paruh baya menyambut kami dalam bahasa Indonesia yang pelo, ”Dari mana?”
Jenny namanya. Mantan WNI keturunan Tionghoa asal Medan ini bersama suami sudah beberapa tahun tinggal di Hong Kong mengelola usaha penginapan ini. Tidak sedikit dari tamunya adalah orang Indonesia. Kami merogoh kocek HK$ 600 per malam (sekitar Rp 805 ribu) untuk kamar berisi empat ranjang, kamar mandi, televisi, pendingin udara, dan air panas. Lewat Ibu Jenny pula kami membeli tiket masuk Hong Kong Disneyland dengan harga HK$ 330 (sekitar Rp 442 ribu), lebih murah HK$ 20 dari harga resmi, HK$ 350.
***
HONG KONG adalah kota pelabuhan. Karena itu, namanya dalam Mandarin adalah Xianggang. Artinya pelabuhan yang harum. Nama Hong Kong sendiri merupakan versi bahasa Inggris. Maklum, sejarah Hong Kong menunjukkan bahwa Kerajaan Britania sudah mulai melakukan kontak sejak Dinasti Qing pada 1839. Penolakan akan impor opium Kerajaan Britania ke Hong Kong menyebabkan pertempuran yang dikenal sebagai Perang Opium.
Setelah melewati masa penjajahan--termasuk pendudukan Jepang--Hong Kong akhirnya dikembalikan ke RRC oleh Inggris pada 1997. Karena itu, bersama Makau, Hong Kong merupakan daerah administratif khusus yang memiliki otonomi sendiri dalam mata uang, bea-cukai, hukum, dan sebagainya. Ada juga kelompok warga yang menolak pengembalian Hong Kong ke RRC. Kebanyakan dari mereka memilih hengkang ke negara lain, misalnya Kanada.
Seperti negara-negara jajahan Inggris lainnya--misalnya Malaysia dan India--Hong Kong memiliki konsep tata kota yang amat baik. Topografi Hong Kong yang unik--terdiri atas beberapa pulau, daerah perbukitan, dan pantai, sekaligus pembangunan modern: gedung pencakar langit, sistem transportasi, dan jalan layang--menunjukkan pengelolaan kota yang baik tersebut.
Sebut saja produk-produk tata kelola yang baik tersebut, misalnya jalur pedestrian dan sistem transportasi. Untuk menyoal prestasi di bidang transportasi, Hong Kong mampu menunjukkan kemapanannya: taksi, bus tingkat, jalan layang, trem, feri, bandara udara internasional, mesin parkir, dan kereta bawah tanah. Bicara soal yang terakhir ini, kereta bawah tanah (MTR), kami amat mengandalkannya untuk menjelajahi kota itu.
MTR benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya: alat angkut massal. Sejak dibangun pada 1979, hingga kini moda ini sudah melayani jalur sepanjang 211,6 kilometer yang melewati 150 stasiun. Waktu tempuh antarstasiun sekitar 3-4 menit. Dilengkapi pula papan penunjuk waktu tiba antarkereta di tiap stasiun dengan ketepatan yang amat presisi. Selain itu, tiap stasiun dilengkapi dengan pusat pelayanan penumpang, toilet, sarana bagi penyandang cacat, papan penunjuk arah, mesin penjual tiket dengan layar sentuh yang mampu memberikan uang kembalian, sampai warung kecil dan papan ramalan cuaca. Dan semuanya berfungsi!
Bila berniat menjelajahi kota seharian penuh dengan MTR, Tourist Day Pass adalah pilihan tepat. Berbekal tiket seharga HK$ 55 (sekitar Rp 73 ribu) yang boleh dipakai sepuasnya selama 24 jam ini, kami menggunakannya untuk pergi ke banyak tempat. ”Mumpung sepuasnya!” seru teman saya, tak mau rugi.
Sebenarnya ada jenis pembayaran lain yang juga menguntungkan, yakni Octopus Card. Kartu yang mulai digunakan pada 1997 ini menjadi alat pembayaran pengganti uang tunai yang praktis. Kini, kartu ini bisa dipakai untuk membayar MTR, bus, feri, mesin parkir, mesin minuman, minimarket, restoran cepat saji, dan lain-lain. Dengan kartu ini, tiap transaksi mendapat potongan 10 persen. Penggunaannya mudah. Tinggal mendekatkan kartu ke mesin yang menyensor. Maka, tak jarang kami saksikan banyak orang di Hong Kong yang cukup menempelkan dompetnya, bahkan tas, ketika bertransaksi, saking kuatnya sensor.
***
BEBERAPA hari di Hong Kong, saya melatih otot kaki yang jarang diajak berolahraga. Bagaimana tidak, jalur pedestrian yang amat nyaman di sana memanjakan saya sebagai pejalan kaki. Seharian penuh saya bisa berjalan kaki tanpa berhenti. Tanpa disadari, tempo berjalan saya pun mengikuti irama cepat kebanyakan warga Hong Kong. Alhasil, dalam sehari saya berhasil meraih beberapa lokasi tujuan wisata, diawali dengan Wan Chai, tempat peringatan atas kembalinya Hong Kong ke Cina.
Di sana kami sempat menjajal egg tart, kue lokal seharga HK$ 3,5 yang menjadi jajanan wajib bila berkunjung ke Wan Chai.
Kami juga sempat bergerak ke Causeway Bay karena tergiur oleh promosi tempat makan yang katanya menyajikan berbagai masakan khas lokal dan interlokal--maksudnya dunia. Namun, setelah luntang-lantung ke sana kemari, sempat juga tersesat dan diguyur hujan badai, yang didapat hanyalah kecewa. Pasalnya, tempat yang dimaksud adalah sebuah food court yang menjual berbagai makanan khas Cina, Turki, India, Eropa, dan Jepang dengan harga selangit. Karena kendala bujet, kami urungkan nafsu untuk makan di sana. Akhirnya, sambil malu-malu kami masuki Kentucky Fried Chicken yang ada di seberang jalan.
Hollywood Road di Sheung Wan dan Kuil Che Kung di Sha Tin juga menjadi daerah jelajah saya. Di tempat pertama terdapat banyak penjual barang antik, dengan lapak berbagai ukuran dan gengsi: dari yang kaki lima, toko kecil, sampai toko mewah. Sedangkan Kuil Che Kung, yang merupakan peninggalan Dinasti Ming, didirikan oleh warga Sha Tin sebagai sarana memohon kesehatan, dan selalu ramai setiap hari ketiga tiap bulan pertama menurut kalender lunar.
Tidak lengkap rasanya ke Hong Kong tanpa menyambangi Mongkok, sebuah daerah yang terkenal dengan ladies market-nya, yakni sebuah pasar malam kaki lima yang banyak menjual barang-barang keperluan perempuan--namun beberapa lapak juga menjual perlengkapan untuk kaum pria. Di pasar ini, ribuan orang berjubel dalam satu waktu. Bahkan pada jam-jam tertentu, saking ramainya, banyak orang yang berbincang-bincang di tengah jalan! Prinsip berbelanja di Mongkok, pembeli harus berani menawar harga, bahkan dengan tawaran tidak masuk akal sekalipun. Pasalnya, pedagang di sini sering memasang tarif amat tinggi, seperti yang biasa ditemui di Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Olahraga membesarkan betis hari itu ditutup dengan sebuah pengalaman menakjubkan, yakni menonton pertunjukan Symphony of Lights di Avenue of Stars di East Tsim Sha Tsui. Setiap pukul 20.00, di tempat ini dipertunjukkan permainan lampu-lampu sorot dari gedung pencakar langit yang diiringi musik.
Dengan lanskap gedung-gedung megah dan daerah perairan sebagai pemisah, diperkuat dengan tingkah hilir-mudiknya feri-feri yang melintas, tempat ini menghadirkan aura romansa yang sangat, mencipta kehangatan yang intim bagi siapa saja. Pantas saja Hong Kong selalu mempesona para pasangan bulan madu, atau setidaknya sebagai tujuan rekreasi.
ROY THANIAGO, PENIKMAT PERJALANAN, TINGGAL DI JAKARTA





Komentar Anda :