Agus Condro Tuding Pimpinan PDIP Sakit Pikiran
Jum'at, 05 September 2008 | 13:03 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Agus Condro Prayitno menuding PDI Perjuangan otoriter karena memecat dirinya dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat tanpa melalui proses verifikasi dan pengadilan. Ia menyebut para pemimpin partai berambang banteng moncong putih saat ini pada sakit pikiran. “Partai saya sedang sakit karena dipimpin orang yang pikirannya tidak sehat, (mereka) sedang bersenang-senang punya jabatan,” ujar Agus di Gedung DPR, Jumat (5/9).
Agus Condro Prayitno adalah mantan anggota Komisi Keuangan dan Perbankan DPR periode 1999-2004 dari Fraksi PDI Perjuangan yang mengaku menerima sepuluh lembar cek perjalanan senilai Rp 500 juta. Uang tersebut diduga terkait dengan terpilihnya Miranda Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004 lalu. Kepada penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Agus menyebut enam koleganya sesama fraksi turut menerima duit tersebut.
Atas pengakuan agus tersebut, PDI Perjuangan menarik (recall) Agus Condro dari keanggtaan Dewan. Dalam surat bernomor F68/EX/DPP/IX/2008 yang ditandatangani langsung Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Sekretaris Jenderal Partai Pramono Anung, Agus diberhentikan dari DPR. Penggantinya bernama Gatot Lupri Jantomo, dari daerah pemilhan Jawa Tengah VIII di nomor urut empat.
Agus menilai pemecatannya tak beralasan karena ia sama sekali tak pernah dimintai klarifikasi. PDI Perjuangan, kata Agus, seharusnya mengutamakan demokrasi karena pengakuannya terhadap penyidik KPK adalah pengakuan jujur. “Saya dihukum tanpa melalui proses pengadilan disebuah partai yang menyandang nama demokrasi,” katanya.
Agus juga menyesalkan pengambilan keputusan pemecatan dirinya dari keanggotaan dewan yang dinilai terlalu simpel. Dasar pemecatannya, kata Agus, adalah pengakuannya menerima sempuluh lembar cek perjalanan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi. Atas dasar itu ia dipecat. Namun sejumlah koleganya yang menurutnya turut menerima duit tersebut tidak dipecat hanya karena mereka tak mau mengakui menerima duit tersebut.
Dwi Riyanto Agustiar
Topik :






Komentar Anda :