close

Presiden: Ada yang Ingin SBY Tidak Dilantik

Jum'at, 17 Juli 2009 | 14:43 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menuding ledakan bom di Hotel JW Marriote dan Ritz Carlton yang terjadi Jumat (17/7) pagi tadi dilakukan oleh kelompok teroris. Menurut dia, pemboman tersebut bisa jadi terkait hasil pemilihan umum.

“Meski belum tentu kelompok teroris yang dikenal selama ini,” kata Yudhoyono dalam konferensi pers yang ditayangkan stasiun televisi. “Saat ini ada segelintir orang di negeri ini yang tertawa puas, bersorak dalam hati, tertawa dalam angkara murka.”

Yudhoyono mengaku telah mendapat informasi dari intelijen bahwa ada kegiatan kelompok teroris yang menjadikan foto dirinya sebagai sasaran tembak. “Ini bukan fitnah. Ini bukan isu,” kata dia sambil menujukkan foto dirinya yang jadi target latihan tembak.

Dia juga menuturkan, telah mendengar informasi bahwa ada rencana dari kelompok tertentu untuk melakukan kekerasan berkaitan dengan hasil pemilihan umum. “Ada pernyataan bahwa ada revolusi jika SBY menang, ada pernyataan bahwa SBY tidak boleh dilantik,” ujarnya.

Ledakan terjadi di dua titik di Mega Kuningan sekitar pukul 07.55 WIB. Letupan pertama menghajar JW Marriott dan diikuti ledakan di Ritz Carlton, dua hotel terkemuka di Jakarta. Hingga kini belum diketahui pasti penyebab ledakan.

Hingga saat ini korban yang meninggal berjumlah sembilan orang. Korban yang meninggal di lokasi ledakan ada delapan orang, yakni di Hotel JW Marriott sebanyak enam orang dan Hotel Ritz Carlton dua orang.

"Satu orang meninggal di Rumah Sakit Medistra," kata Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Widodo Adi Sucipto di lokasi kejadian. Di samping kesembilan korban meninggal ledakan juga menyebabkan 42 orang lainnya luka-luka.

Indonesia setiap tahun dihajar ledakan bom mulai dari 1999 hingga 2005 yang menelan korban 280 orang tewas. Jaringan teroris Asia Tenggara Jemaah Islamiyah dituding sebagai otak di belakang ledakan bom yang terjadi di JW Marriott pada 2003 yang membunuh 12 orang.

Sebuah bom meledak di luar kompleks Kedutaan Besar Australia pada 2004 yang merenggut sembilan nyawa. Pada 2002 serangan bom yang menerjang Bali membunuh 202 orang, 88 di antaranya berbangsa Australia.

ANTON SEPTIAN

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda [6] :

  • Dasar...

    Dasar jenderal salon..ini bukti kekonyolan presiden dari kalangan jenderal salon..
    Akhirnya gak terbukti toh omongannya..?
    malu donk..presiden kok kampungan

  • Ketidakpantasan!!

    Tidak ada gunanya lagi bersikap seperti ini. Kapan bangsa Indonesia bisa lepas sportif dan lebih open-minded? Siapapun presiden yang dipilih, itu adalah hasil keputusan bersama (demokrasi). Sudah jelas hasil suara SBY menang telak dibandingkan kandidat-kandidat lain. Yang berarti SBY sudah diakui oleh masyarakat kepemimpinan nya selama lima tahun terakhir, dan merasa bahwa kemudian ia pantas untuk dipilih menjadi presiden lagi. Sudah tidak ada gunanya lagi menyesali keputusan ini. Sudah tidak ada gunanya lagi protes sana-sini, dan mencoba mengkambinghitamkan. SBY sampai saat ini merupakan pilihan yang paling tepat untuk rakyat. Bukan hanya dilihat dari figur saja, namun juga hubungan nya dengan pejabat penting internasional yang cukup erat sehingga terjalin hubungan persahabatan antara Indonesia dengan negara-negara luar. Dalam arti lain, SBY sudah dikenal baik. Sekarang marilah, kita dukung SBY dalam menangani masalah-masalah negara. Serta bertindak sewajarnya dan sepantasnya, sebagai WNI yang baik. Tidak memalukan seperti itu!

  • -------

    Dengan adanya kelompok/golongan/perorangan tidak mau menerima kemenangan SBY-BOEDIONO pada pilpres lalu memperkuat kenyataan itu, Pak SBY!!!
    PADAHAL KEMENANGAN SBY BOEDIONO, ALHAMDULILLAH DIREDHOI OLEH ALLAH SWT...., TAPI KITA SESAMA MANUSIA TETAP SAJA TIDAK RELA ALIAS TOLIL!!!!!!!!!

  • Presiden kok mengeluh...???

    apa hubungannya pengeboman dengan pilpres ? jangan sampai pernyataan SBY merupakan teror buat rakyat dan demokrasi !! payah nih, punya presiden kerjaannya mengeluh aja ! kena santetlah, diancam dibunuhlah, presiden kan punya kekuasaan untuk menangkap orang-orang yang mengancamnya ? tinggal tangkap aja kok !

  • < bukan ada tapi jutaan >

    Selama SBY belum menyelesaikan bencana Lapindo.

1 2
Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan