Sungkeman Tanpa Jenang di Bangsal Kepatihan
Senin, 06 Oktober 2008 | 20:23 WIB
TEMPO Interaktif, Yogyakarta:Ada yang berbeda saat open house Gubernur D.I Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Bangsal Kepatihan, Yogya pada lebaran tahun ini. Tak ada lagi jenang yang disuguhkan bersama makanan khas lainnya seperti tahun-tahun sebelumnya. Semua berganti dalam makanan "kardus".
Open House itu digelar hari ini, Senin (6/10). Ribuan orang berbondong-bondong untuk bisa bersalaman dengan Gubernur yang juga Raja Keraton Ngayogyakarta (Yogyakarta).
Acara yang sudah bisa dilakukan sejak 1998, umumnya selalu disuguhi beragam makanan tradisional. Misalnya mi, lontong, tiwul dan berbagai macam jenang (bubur) aneka rupa. Namun kali ini, sekitar 3 ribu warga yang mengikuti open house sejak kecewa karena hanya disuguhi makanan ringan dalam kardus. “Saya agak kecewa, selain sungkem dengan Sultan, keluarga saya ajak biar tahu tradisi Yogya termasuk jenangnya, tetapi ternyata tidak ada,” kata Agus Hanif, 41 tahun, warga jalan Kaliurang KM 4,5 Yogyakarta usai bersalaman.
Hanif sengaja mudik bersama keluarga untuk sungkem kepada Sultan setiap tahun. Kali ini ia mengajak istri, dua anak, adik dan ibunya. Ia berharap tradisi sungkeman harus dilestarikan dan diajarkan kepada anak-anak untuk bisa memahami tradisi suatu daerah.
Tradisi Open house setelah lebaran biasanya diikuti oleh lebih dari 5 ribu warga, baik warga Yogyakarta maupun adari daerah lain. Selain itu juga banyak yang mengikuti sungkeman dengan Sultan dari kalangan pegawai negari sipil.
Sri Sultan HB X didampingi istri, GKR Hemas dan Paku Alam IX dan istri memakai pakaian batik menyalami satu persatu warga dengan penuh senyuman.
Juru Bicara Pemerintah DIY Alex Samsuri mengatakan, menu jamuan tahun ini memang berbeda dibanding yang dulu. Soalnya, pengelola katering suka mengeluh, banyak piring, nampan dan vas bunga mereka dibawa pulang warga. "Mereka ingin ngalap berkah" kata Alex.
Sebagai usulan, kata Alex, alat-alat yang dipakai akan diganti dengan yang murah, jika dibawa pulang oleh warga tidak terlalu mahal pengeluarannya.
“Untuk menjaga tradisi, tahun depan alat-alat yang dipakai untuk makanan diganti dengan yang tradisional,” kata Alex.
Muhammad Syaifullah
Topik :






Komentar Anda :