Flu Binatang Berpotensi Picu Virus Baru
Selasa, 10 November 2009 | 00:02 WIB
TEMPO Interaktif, Jenewa - Sejumlah babi, kalkun, dan binatang peliharaan telah terinfeksi flu H1N1. Namun, virus pandemi itu tampaknya belum menyebar dengan cepat di antara binatang, demikian pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Jumat lalu. Juru bicara WHO, Gregory Hartl, mengatakan belum mengetahui bagaimana binatang yang terisolasi itu tertular virus flu yang menyebar dengan cepat di antara manusia di belahan bumi utara, terutama di Eropa Timur.
Sejenis virus flu baru, yang terlihat seperti gabungan gen manusia dan babi, telah terdeteksi di sejumlah peternakan cerpelai di Denmark. Virus itu tampaknya hanya menginfeksi binatang dan tidak menjangkiti pekerja peternakan yang bersentuhan dengan binatang tersebut. "Tak ada kasus pada manusia yang berasosiasi dengan cerpelai itu, tapi kami tidak tahu pada kasus lainnya," kata Hartl.
Dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan pada situsnya, badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu mengatakan kasus cerpelai tersebut mendemonstrasikan ekologi virus influenza yang terus berubah, potensi untuk perubahan yang mengejutkan, dan perlunya kewaspadaan tak pernah kendur, juga terhadap binatang. "Penemuan terbaru ini menunjukkan bahwa virus influenza A pada binatang dan manusia semakin bertindak seperti pusat pertemuan gen yang bersirkulasi di antara beberapa inang, dan hal itu membuka potensi munculnya virus influenza baru yang berkembang pada binatang lain selain babi," kata WHO.
WHO merekomendasikan agar pejabat berwenang melakukan pemantauan rutin terhadap para pekerja peternakan, terutama bila mereka memperlihatkan tanda-tanda penyakit pernapasan. Mereka mengimbau kerja sama erat antara petugas kesehatan publik dan dokter hewan di negara-negara wabah berjangkit.
Data terakhir WHO mencatat lebih dari 5.700 orang di seluruh dunia meninggal akibat infeksi H1N1 sejak penyakit itu pertama kali ditemukan di Amerika Utara tahun lalu. Sebagian besar pasien yang mengalami efek serius flu H1N1 berusia di bawah 65 tahun, berbeda dengan virus flu musiman, yang biasanya menyerang orang berusia lanjut.
TJANDRA | REUTERS





Komentar Anda :