close

Ayah yang Penuh Kasih Itu Telah Pergi  

Jum'at, 19 September 2008 | 15:51 WIB

TEMPO Interaktif, Buat Ronny Pattinasarany keluarga adalah hal paling utama dibandingkan dunia yang membesarkannya: bola. Pria yang selalu akrab dengan siapapun dan penuh senyum itu 'menyerah' pada takdir pada usia 59 tahun di Rumah Sakit Omni Medical Centre, Jumat (19/9).

Keluarga memang menjadi fokus utama Ronny yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di lapangan sepak bola. Pria yang beristrikan Stella Maria itu rela ketika harus meninggalkan jabatannya sebagai pelatih, hanya untuk mendampingi anak keduanya, Handry Jaques Pattinasarany (Yerry kini 28 tahun) memerangi kecanduan narkoba jenis putau.

"Saya dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit, sepak bola atau anak. Saya akhirnya memutuskan meninggalkan sepak bola meski pada saat itu tidak tahu apa yang akan saya lakukan," kenang Ronny ketika memutuskan fokus menemani anaknya yang tengah kecanduan putau.

Bagaimana tidak menjadi seorang ayah yang baik. Sebagai contoh ketika Yerry tengah sakau, Ronny 'nekat' mengantarkan anaknya ke bandar putau. Di kemudian hari anaknya yang lain Robenno Patrick Pattinasarany (Benny kini 29 tahun), bahkan ikut bersentuhan dengan barang laknat tersebut.

Tapi dengan ketabahan luar biasa ditambah dukungan keluarga, Ronny menjalani semuanya dengan ikhlas. Untuk 'mengongkosi' pembelian putau dari anaknya pria yang sempat menjadi Olahragawan Terbaik Nasional (1976 dan 1981) itu bahkan sampai harus berhutang sana-sini.

Selesai 'mengurus' anak, Ronny sempat kembali ke lapangan. Kehidupan ekonomi keluarganya yang sempat morat-marit kembali ke jalurnya. Itu setelah dia menjadi anggota Tim Monitoring Badan Tim Nasional PSSI, ditambah kesibukannya menjadi pelatih Sekolah Sepak Bola (SSB).

Tapi itu tak berlangsung lama. Kanker ganas yang semula menggerogoti pankreas pria berusia 59 tahun itu membuat tubuhnya meradang. Untuk mendapatkan hasil maksimal pria yang mempunyai tiga anak itu terbang ke Cina. Di Rumah Sakit Ghuangzhou cairan kanker dari paru-paru dan tulang belakang dari Nyong Ambon itu sempat disedot.

Merasa baikan, Ronny pulang ke Jakarta. Tapi itu tidak lama. Maut menantinya setelah tiga hari terbaring di kamar 409 Rumah Sakit Omni Medical Centre. Ajal menjemputnya pada pukul 13.35 WIB Jumat (19/9).

Selamat jalan Bang Ronny. Saya memang tak mengenal langsung abang. Tapi jagat sepak bola Indonesia yang selama ini akrab melihat kiprah abang di layar televisi maupun media jelas kehilangan seorang ayah yang penuh kasih.

Daftar Riwayat Hidup Ronny Pattinasarany:

Nama: Ronny Pattinasarany
Lahir: Makassar, Sulawesi Selatan, 9 Februari 1949. 
Istri: Stella 
Anak: Robenno Patrick Pattinasarany, Jaques Pattinasarany, Diana Maria Pattinasarany
Wafat: 19 September 2008

Pemain
PSM Junior (1966)
PSM Makassar 1968-1976
Timnas (1979-1985)
Warna Agung (1978-1982)
Tunas Inti (1982)

Pelatih:
Persiba Balikpapan
Krama Yudha Tiga Berlian
Persita Tangerang
Petrokimia Gresik
Makassar Utama
Persitara Jakarta Utara
Persija Jakarta

Lain-lain:
Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI 2006
Wakil Ketua Komdis 2006
Tim Monitoring Timnas 2007

Prestasi

Pemain:
Pemain Asia All Star (1982)
Olahragawan Terbaik Nasional (1976 dan 1981)
Pemain Terbaik Galatama (1979 dan 1980)
Medali Perak SEA Games (1979 dan 1981)

Pelatih:
Petrokimia Juara Surya Cup
Petrokimia Juara Petro Cup
Petrokimia menjadi runner-up Tugu Muda Cup

Bagus Wijanarko

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda [6] :

  • Selamat jalan "ayah"

    omong kosong jika bangsa ini TIDAK kehilangan anda...
    hnaya saja sungguh terlalu jika bangsa ini tidak menghargai para PEJUANG olah raga

  • Pahlawan sepak bola

    beristirahatlah pahlawan sepak bolaku
    kami akan meneruskan perjuanganmu untuk meningkatkan prestasi seperti yang pernah engkau raih

  • Sedih dengan ganasnya kanker

    Apa yang terjadi ke Bapak Ronny adalah gambaraan betapa kanker adalah penyakit yang tidak bisa 'disentuh' pengobatan modern. Jika saya baca koran, Bapak Ronny didiagnosa kanker pada akhir 2007, tetapi hanya dalam 9 bulan untuk menghabisi si penderita. Semoga Tuhan memberi kekuatan untuk keluarga Bapak Ronny

  • Bendera setengah tiang

    Hari itu bendera persepakbolaan kita dikibarkan setengah tiang.
    Hari itu salah satu panutan kita telah dipanggil pulang.
    Saya hanya bisa berdoa buat beliau, cuma doa.
    Tapi dengan penuh kekaguman dan kesedihan.

  • Beristirahatlah

    bangsa ini kehilangan sosok pahlawan. Bukan hanya pahlawan di bidang sepakbola tapi juga pahlawan buat keluarga besarnya. Beristirahatlah dengan tenang. Semua perbuatanmu selama ini akan selalu dikenang masyarakat Indonesia

1 2
Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan