Kronologi Kesehatan Soeharto
Selasa, 11 Mei 2004 | 13:40 WIB
TEMPO Interaktif :
Kondisi kesehatan Mantan Presiden Soeharto adalah penghalang untuk dilanjutkannya kasus dugaan korupsi di tujuh yayasan. Hingga saat ini, kelanjutan kasus tersebut belum jelas.
Berikut kronologi sakit Soeharto.
20 Juli 1999
Soeharto terkena serangan stroke ringan. Pagi hari, Soeharto menjalani pemeriksaan radiologi di MRI di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan. Akibatnya, Kejaksaan Agung menghentikan sementara penyelidikan atas kasus Soeharto.
28 Juli 1999
Kondisi kesehatan Soeharto membaik. Bagian mulut yang diberitakan sebelumnya miring sudah kembali normal. Soeharto menjalani sejumlah pemeriksaan kesehatan dari tim dokter kepresiden seperti pemeriksaan kondisi syaraf secara menyeluruh (EEG) dan CT Scan
30 Juli 1999
Mantan Presiden Soeharto meninggalkan Rumah Sakit Pusat Pertamina. Izin pulang datang dari tim dokter yang dipimpin Dr Ibrahim Ginting, setelah melakukan rapat pagi harinya bersama anggota tim dokter lainnya.
Soeharto ditemani Siti Hardiyanti Rukmana dan dua adiknya, Siti Hediati serta Siti Utami Adiningsing dan Brestina Soehardjo --istri mantan Dirjen Bea dan Cukai Departemen Keuangan Soehardjo--.
14 Agustus 1999
Soeharto dilarikan lagi ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Kali ini ia harus menjalani rawat inap setelah mengalami pendarahan di usus saat hendak mengambil air wudu untuk salat subuh di kediamannya.
Kepala RSPP dr Sudjono Martoatmodjo dan Ketua Tim Dokter Ahli Presiden RI, dr Ibrahim Ginting, menyebutkan, sekitar pukul 05.00 WIB, Soeharto mengalami pendarahan usus. Saat itu juga tim dokter berpendapat, HM Soeharto perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis di rumah sakit.
Sekitar pukul 09.00 WIB, Soeharto tiba di RSPP dan langsung mendapatkan pemeriksaan medis. Sebuah sumber di RSPP menyebutkan, Soeharto kemungkinan besar menderita ambeien atau haemorroid akibat kebanyakan berbaring dan duduk selama proses penyembuhan, baik di RSPP maupun di rumah.
7 Oktober 1999
Tim dokter Soeharto menerangkan, ia masih dalam keadaan sakit, sehingga tidak dapat mengikuti pemeriksaan di Kejaksaan Agung. Surat keterangan tim dokter yang ditandatangani Dr Hari Sabardi ini menekankan, keterangan tersebut dibuat berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara medis.
14 Februari 2000
Soeharto diberitakan kini mengalami kesulitan berkomunikasi verbal.
7 Maret 2000
Soeharto yang dikatakan tim dokternya sakit jasmani dan rohani, dibawa ke RSCM oleh Kejakgung untuk pemeriksaan ulang.
13 Maret 2000
Oleh Kejaksaan Agung, Soeharto ditempatkan Paviliun Cendrawasih I, RSCM, Jakpus, yang bertarif Rp 350.000/malam, yang sudah dipesan beberapa hari sebelumnya. Tapi ruangan tersebut tidak jadi digunakan.
Wakil Direktur Pelayanan Medik RSCM, dr Supardi mengatakan Soeharto diperiksa enam dokter. Kejakgung tak akan ikut campur dengan pemeriksaan tim medis karena tak ingin ada anggapan tim medis itu dibentuk Kejakgung.
14 Agustus 2000
Soeharto kembali masuk RSP Pertamina, Jakarta Selatan untuk pemeriksaan kesehatan. Setelah melakukan pemeriksaan di ruang endoskopi selama dua setengah jam, Soeharto dibawa ke luar menuju ruang CT Scan lantai satu VIP.
Sigit Hardjoyudanto, mengakui bapaknya hanya cek kesehatan biasa, yang sesungguhnya bisa dilakukan di rumah. Namun karena peralatan tidak lengkap terpaksa harus ke RS Pertamina.
23 September 2000
Soeharto foto otak, yang dilakukan pihak RSPP dengan alat di Klinik Cendana.
28 September 2000
Dalam sidang pengadilan mantan Presiden Soeharto, Tim Dokter Penilai Kejagung yang diketuai Prof Dr M Zakaria Spr dan 20 orang anggota timnya, menyimpulkan Soeharto memang mengalami kesulitan menyampaikan apa yang dia inginkan. Soeharto hanya mampu menjawab pertanyaan dokter pelan dan singkat.
Menurut tim dokter, gangguan ini disebabkan stroke tiga kali yang dialaminya. Soeharto juga mempunyai riwayat penyakit, yang banyak, seperti kolesterol, jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes. Semua itu sudah dialami sejak 1970-an.
24 Februari 2001
Soaharto menjalani operasi usus buntu di RSPP.
26 Februari 2001
Kondisi kesehatan Soeharto mulai membaik, meskipun infus belum dicabut.
13 Juni 2001
Soeharto menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung permanen di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Menurut tim dokter, saat menjalani pemeriksaan kesehatan rutin oleh tim dokter pribadi bersama tim dokter RSCM, ditemukan frekuensi nadi rendah, antara 30-40 per menit.
Kondisi demikian, kurang menguntungkan untuk distribusi oksigen ke organ-organ tubuh penting, seperti otak, ginjal dan jantung.
Tim Dokter Independen terdiri dari Ketua Tim dari RSCM Ichramsjah A Rachman didampingi dokter spesialis jantung dr Miftach Surya Sudrajat dan dr Juniarti Hatta. Para dokter memutuskan untuk segera mengatasi kondisi ini dengan memasang alat pacu jantung agar dapat mempertahankan frekuensi nadi menjadi optimal (60-70 per menit). Kondisi normal yang ideal bagi yang berusia antara 70-80 tahun adalah 80 kali per menit.
17 Desember 2001
Soeharto dibawa ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) karena kondisinya kritis. Soeharto menderita panas tinggi, batuk-batuk dan sesak napas. Tensi darah berkisar 180/70 dengan suhu badan 38-39 derajat Celsius.
18 Desember 2001
Tim dokter menyimpulkan Soeharto menderita pneumonia dengan gejala flu, batuk, demam, tidak mau makan dan diare. Namun karena pertimbangan non medis seperti faktor emosional dan kultural, seperti perayaan Idul Fitri, maka diputuskan Soaharto tetap di rumah dengan perawatan intensif.
28 Desember 2001
Setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Pertamina selama 11 hari, Soeharto pulang ke rumah di Jalan Cendana No 8 Menteng, Jakarta Pusat. Sekitar pukul 09.00 WIB, Soeharto yang duduk di kursi roda, keluar didampingi putri sulungnya, Siti Hardijanti Rukmana, dan putra ketiga, Bambang Trihatmodjo, serta beberapa dokter yang merawatnya.
Mengenakan batik cokelat dan sarung warna ungu, Soahrto sempat melambaikan tangan dan tersenyum.
14 Maret 2002
Putri bungsu Soeharto, Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mamiek, mengungkapkan kepada wartawan, kesehatan Soeharto memburuk.
15 Maret 2002
Soeharto mengalami pendarahan dan harus diinfus.
16 Maret 2002
Kesehatan Soeharto menurun. Tim dokter yang merawatnya mempersiapkan transfusi darah.
18 Juni 2002
Lebih dari 20 orang anggota tim dokter yang memeriksa kondisi kesehatan Suharto. Tujuh diantaranya adalah tim dokter independen RSCM yang ditunjuk Kejaksaan, sisanya adalah dokter keluarga Soeharto.
Hal ini dilakukan Kejaksaan untuk mengecek kebenaran berita, kondisi Soeharto telah pulih dan membuka kemungkinan dibukanya kembali kasus dugaan korupsi.
12 Agustus 2002
Ketua Tim Dokter Soeharto, Akhmal Taher, mengungkapkan, secara umum kesehatan mantan presiden Soeharto maju dibanding saat terserang storke pada 1999 dan pemeriksaan pada 1999 dan 2001. Namun kemampuan berbahasanya terganggu sedang sampai berat. Akhmal menggambarkan Soeharto hanya bisa mengucapkan dua sampai empat kata yang mudah, sedangkan pertanyaan yang kompleks tidak bisa dimengerti dan dijawab Soeharto.
29 Oktober 2002
Soeharto berziarah ke makam Tien Soeharto di Astana Giribangun, Mangadeg, Karanganyar. Ini merupakan ziarah pertama Soeharto ke Giribangun, setelah sakit.
Soeharto tampak sehat dan segar serta mampu berjalan sendiri tanpa dipapah maupun menggunakan tongkat.
30 Oktober 2002
Anggota tim pengacara Soeharto, Moh. Assegaf menyatakan secara fisik mantan penguasa Orde Baru memang tampak sehat dan dapat melakukan aktivitas kecil sehari-hari. Namun jika diajak berkomunikasi, lawan bicaranya pasti sulit memahami apa yang disampaikannya. Dia mencontohkan, Soeharto bisa mengenali tim pengacaranya yang datang bertamu. Ia pun tetap bisa menjalankan salat lima waktu, meskipun menurut orang-orang di sekitarnya, salatnya itu terkadang salah-salah.
29 April 2003
Kondisi kesehatan Soeharto kembali memburuk. Keterangan ini disampaikan salah seorang kerabat Cendana yang enggan disebutkan namanya kepada Tempo News Room di Rumah Sakit Pusat Pertamina.
Masih menurut sumber itu, Soeharto menderita pendarahan saluran pencernaan atau usus besar. Kondisinya terus memburuk karena sudah merembet ke jantung yang selama ini sudah dibantu dengan alat pacu jantung.
Diberlakukan peraturan baru yang melarang pembezuk yang ingin menjenguk Soeharto.
7 Januari 2004
Kejaksaan Agung memerintahkan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, kembali memeriksa kondisi kesehatan Soeharto. Kejari telah mengirim surat ke tim dokter RSCM pada 15 Desember 2003, agar RSCM mengirim tim dokter memeriksa Soeharto.
Permintaan untuk kembali memeriksa Soeharto ini dilakukan setelah diketahui Soeharto mampu melakukan perjalanan ke Cilacap, menjenguk Tommy Soeharto, saat lebaran 2003. Menurut fatwa Mahkamah Agung, pemerksaan kasus dugaan korupsi Soeharto bisa kembali dilanjutkan jika dia terbukti sehat.
Hingga saat ini, tim dokter RSCM sudah tiga kali memeriksa kesehatan Soeharto. Dan dalam pemeriksaan terakhir, tim dokter menyatakan Soeharto menderita cacat psikologi permanen.
7 Februari 2004
Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad menemui Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta Pusat. Menurut Mahathir, Soaharto tampak sehat, meskipun berbicaranya tidak lancer. Saat meninggalkan rumah Soeharto, kedua mantan orang kuat itu saling berpelukan. Soeharto mengantar Mahathir hingga teras rumah
10 Februari 2004
Pemeriksaan kembali kesehatan Soeharto belum jelas. Kejaksaan Agung masih berkoordinasi dengan tim penasihat hukum dan pihak keluarga Soeharto.
29 April 2004
Kondisi kesehatan mantan Presiden Soeharto memburuk. Keterangan ini disampaikan salah seorang kerabat Cendana yang enggan disebutkan namanya kepada Tempo News Room di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, Kamis (29/4) siang.
Menurut sumber itu, pendarahan saluran pencernaan atau usus besar Soeharto masih berlangsung. Kondisi ini terus memburuk karena sudah merembet ke jantung yang selama ini sudah dibantu dengan alat pacu jantung. Kini diberlakukan peraturan baru yang melarang pembezuk yang ingin menjenguk Soeharto.
2 Mei 2004
Tim dokter RSPP mengumumkan kesehatan Soeharto membaik.
Pusat dan Data Analisa Tempo








