Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Timeline  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
   

Dari Mana Datangnya Rusuh Sampit?
Rabu, 12 Mei 2004 | 02:04 WIB

Minggu, 18 Februari 2001:
* Pukul 03.00 WIB: Empat anggota sebuah keluarga Madura-Matayo, Haris, Kama dan istrinya-tewas dibunuh.
* Pukul 05.30 WIB: Rumah milik suku Dayak yang berjarak sekitar 200 meter dari rumah Matayo didatangai ratusan massa dari etnis Madura. Timil, nama pemilik rumah itu, dianggap menyembunyikan tersangka. Massa meminta agar Timil menyerahkan pelaku pembunuhan itu. Karena permintaan mereka tidak dituruti, massa marah dan membakar rumah. Penghuni rumah kemudian keluar dengan menghunus senjata tajam seperti mandau. Polisi berhasil mencegah bentrokan tersebut. Ke-39 orang itu kemudian diangkut polisi. Enam di antaranya ditahan sebagai tersangka pembunuhan Matayo.
* Pukul 08.00 WIB: Melihat buruannya dibawa polisi, massa yang makin lama makin banyak itu meluapkan kemarahan ke tempat lain. Daur (Dayak) beserta anak dan cucunya tewas terpanggang di dalam rumah yang dibakar orang Madura. Pembakaran kemudian meluas ke tempat-tempat lain.

Senin, 19 Februari 2001:
* Pukul 09.00 WIB: Kembali terlihat ada pembakaran. Pelaku aksi brutal itu bukan massa pejalan kaki, melainkan sekelompok orang yang menggunakan motor dengan membawa jeriken berisi bensin. Warga Madura terlihat di berbagai jalan bergerombol sambil membawa senjata tajam.
* Pukul 18.00 WIB: Mulai terlihat warga Dayak melakukan hal yang sama. Mereka juga melakukan pembakaran di beberapa tempat. Pengungsian mulai terlihat, baik dari Dayak, Madura, Banjar, maupun Tionghoa. Polisi terlihat belum melakukan pengamanan secara besar-besaran.

Selasa, 20 Februari 2001: Arus pengungsi makin membesar. Warga Dayak pinggiran Sampit mulai berdatangan, baik melalui darat maupun sungai. Jumlah warga dari etnis Dayak makin membesar. Etnis Madura mulai kewalahan dan kalah. Sejak pagi, aktivitas bisnis tidak jalan. Toko-toko tutup. Gelombang pengungsian ke arah Palangkaraya mulai membanjir.

Rabu, 21 Februari 2001: Sampit masih mencekam dan lumpuh. Listrik mati. Roda bisnis berhenti. Pembakaran dan pembunuhan mulai merembet ke pinggiran Kota Sampit. Etnis Madura dikejar dan dibunuh. Penduduk asli sepertinya tahu di mana kantong-kantong warga Madura berada. Tua-muda pria-wanita menjadi sasaran pembunuhan. Di beberapa ruas jalan, tampak bergelimangan tubuh korban tanpa kepala. Jalan-jalan di kota mulai dikuasai warga asli. Seorang anggota TNI bernama Sersan Satu Gatot Sugianto terkena tembakan dari senjata rakitan milik massa. Menurut data sementara hari itu, korban tewas menjadi 34 orang. Tersangka yang ditangkap polisi menjadi 79 orang. Dua di antaranya dituduh sebagai provokator, sedangkan seorang lagi menjadi koordinator lapangan.

Kamis, 22 Februari 2001: Korban tewas yang terdiri atas anak-anak, wanita dan pria, sudah memasuki angka seratus. Aparat kepolisian dibantu oleh anggota TNI terlihat berjaga-berjaga di tempat-tempat seperti rumah sakit, kantor Telkom, dan Kantor Bupati Kotawaringin Timur. Patroli keamanan juga terlihat di berbagai jalan. Jam malam diberlakukan. Namun, pembakaran dan pembunuhan masih berlangsung, bahkan mengarah ke luar wilayah Sampit. Sampit mencekam.

Jumat, 23 Februari 2001: Pembunuhan dan pembakaran secara sporadis masih terjadi. Gelombang pengungsian membesar. Beberapa kapal pengangkut, termasuk dari TNI AL, mulai melakukan evakuasi. Sebagian besar pengungsi dari etnis Madura mulai diungsikan ke Jawa Timur dan Jawa Tengah. Korban bertambah dan sudah tidak bisa dihitung berapa rumah dan fasilitas umum yang terbakar. Diperkirakan korban jiwa sudah mencapai angka seribu. Pembakaran dan penyerangan masih terjadi dan makin meluas. Sampit lumpuh seperti kota mati.

Massa membakar 17 rumah, lima mobil dan enam sepeda motor

MBM TEMPO


 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Terdakwa Kerusuhan Larantuka Divonis Satu Tahun Penjara
Mensos Berkunjung ke Ambon
Polisi Geledah Rumah Alex Manuputty
Hari Ini, Korban Sniper Delapan Orang
Istri Alex Manuputty Ditangkap
Sweeping Senjata Gagal Dilakukan di Ambon
Puan Maharani Mengunjungi Korban Konflik di Ambon
Puan Maharani ke Ambon
Pemerintah Sudah Dengar Isu Konflik di Ambon Sejak Dua Pekan Lalu
Situasi Ambon Masih Mencekam
> selengkapnya...


Referensi

Dari Mana Datangnya Rusuh Sampit?
Republik Maluku Selatan dari Masa ke Masa
Keppres Pengadilan HAM Ad Hoc

Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [4]

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< May,2004>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data