Malam Jahanam di Jatinangor

Selasa, 10 April 2007 | 10:44 WIB

Saat Cliff Muntu, mahasiswa Institut Pemerintahan Dalam Negeri di Jatinangor, Sumedang, datang ke barak DKI Atas pada Senin malam pekan lalu, ia tidak membayangkan umurnya tinggal dalam hitungan menit. Ia baru saja selesai berlatih drum band dan datang terlambat mengikuti acara kelompok yang menyebut dirinya Pataka. Pukulan pun ia terima dari para seniornya sampai elmaut datang menjemput.

Kronologis

1. Cliff selesai berlatih drum band pukul 21.00 WIB.

2. Sebanyak 11 anggota kelompok yang menamakan diri Pataka (singkatan dari Pasukan Tanah Kehormatan) mengumpulkan 28 kader dari tingkat II, termasuk Cliff, di barak DKI Atas, pada pukul 22.30 WIB.

3. Cliff, penghuni barak Kalimantan Tengah Bawah, dan tiga temannya datang terlambat. Senior menghukum dengan menutup mata dan memukuli mereka.

4. Cliff bergabung dengan barisan junior. Ia kembali dipukuli.

5. Cliff pingsan sekitar pukul 23.35 WIB serta dibawa ke klinik kampus. Kondisinya makin parah, senior melarikan Cliff ke Rumah Sakit Al-Islam, Bandung, dengan ambulans IPDN. Sesampai di rumah sakit, Cliff sudah tewas.

6. IPDN menyatakan Cliff meninggal karena lever, bukan pemukulan. Mereka menolak jenazah diotopsi dan berusaha mengirim langsung ke kampung asalnya di Sulawesi Utara. Jenazah Cliff diberi formalin--polisi menyatakan ini mungkin untuk mengaburkan penyebab kematian saat otopsi--entah oleh siapa.

7. Seorang dosen, Inu Kencana Syafei, melapor ke polisi sehingga otopsi dan proses hukum dimulai. Inu, yang mengungkap kasus itu, malah diancam diberi sanksi oleh Departemen Dalam Negeri.

8. Tujuh mahasiswa IPDN menjadi tersangka.


Hasil Otopsi Cliff Muntu di Rumah Sakit Hasan Sadikin

- Cliff tewas dengan kondisi perdarahan pada jantung
- Memar di bagian kemaluan
- Memar di kepala kanan atas dan kiri belakang
- Paru-paru bengkak
- Bibir dan kukunya pun membiru

Sumber: Koran Tempo