Si Napi Badung Pembunuh Bos PT Asaba

Selasa, 24 Juli 2007 | 09:32 WIB

Seperti cerita komik Bob si Napi Badung, terpidana mati Gunawan Santosa berkali-kali kabur dari penjara tapi bisa ditangkap kembali. Kisah kehidupan bak sinetron itu dimulai saat ia menikahi Alice, putri bos Asaba, Boedyharto Angsono, dan berakhir di sejumlah penjara. Kita tunggu saja apakah nanti ia bisa lolos kembali.

1991
Gunawan Santosa menikahi Alice, anak kedua Boedyharto Angsono, bos PT Asaba.

1995
Gunawan dan mertuanya mulai berseteru.

1998
Boedyharto melaporkan Gunawan ke polisi dengan tuduhan pemalsuan akta tanah dan penggelapan uang perusahaan Rp 40 miliar.

1999
Pengadilan memvonis Gunawan dua setengah tahun penjara.

2002
Mahkamah Agung menguatkan vonis itu.

27 Juni 2002
Polisi membekuk Gunawan di Vila Cidahu, Sukabumi, dan memindahkannya ke Rumah Tahanan Salemba.

Desember 2002
Gunawan dipindahkan ke LP Kuningan, Jawa Barat.

15 Januari 2003
Lolos dari penjara. Gunawan mengatakan bisa kabur karena tidak dikawal saat kembali ke sel setelah bertemu dengan kepala penjara. Saksi menyatakan Gunawan berjalan santai dan langsung masuk sedan BMW yang sudah tiga hari ada di sana.

Versi polisi sangat heroik: Gunawan lolos dengan menjebol atap, melompati tembok, dan menghilang di perumahan penduduk.

6 Juni 2003
Direktur Keuangan PT Asaba Paulus Teja Kusuma, yang melaporkan penyelewengan keuangan Gunawan, nyaris tewas ditembak.

19 Juli 2003
Boedyharto Angsono tewas ditembak di area parkir Gelanggang Remaja Penjaringan, Jakarta Utara. Sersan Dua Edi, anggota Komando Pasukan Khusus yang menjadi pengawal pribadi Boedy, ikut tewas.

31 Juli 2003
Empat anggota marinir yang dekat dengan Gunawan ditangkap dengan tuduhan membunuh Boedyharto.

11 September 2003
Polisi membekuk Gunawan di Kemayoran, Jakarta Pusat. Ia menggunakan nama samaran Indra Amapta, dan membuang ciri fisiknya, yaitu tahi lalat di paha kanan, lewat operasi.

30 April 2004
Gunawan meloloskan diri saat ia dibawa dari Penjara Salemba menuju Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Ia menodongkan pistol--didapatkan di penjara--kepada penjaga mobil tahanan. Ia melompat dari mobil yang sedang melaju sampai pingsan dan pistol menyalak sehingga menembus pinggang sendiri. Tukang ojek membawanya ke sebuah klinik, tempat polisi menciduknya.

Polisi membawanya ke Rumah Sakit Polri, Kramat Jati. Di sana Gunawan nyaris lolos, berhasil melepas borgol, tapi tujuh polisi berhasil menaklukkannya.

9 April 2005
Dipindah ke Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.

24 Juni 2005
Mendapat vonis mati.

5 Mei 2006
Gunawan melarikan diri dengan kunci palsu yang disediakan sipir. Dengan gampang ia melewati tujuh pintu Cipinang.

20 Juli 2007
Polisi menangkap Gunawan Santosa di Plaza Senayan, Jakarta.

Sumber: Koran Tempo