Pasang-Surut Yudhoyono-Kalla

Rabu, 03 Oktober 2007 | 10:27 WIB

Yang satu saudagar dari Bugis yang tangkas mengambil keputusan. Yang satu lainnya serdadu dari Jawa, kariernya moncer, dan berpikiran luas. Yang satu menjadi wakil presiden. Yang satu lainnya menjadi presiden. Tapi Jusuf Kalla, sang saudagar, dan Susilo Bambang Yudhoyono, si serdadu, mungkin tidak akan lagi satu perahu pada pemilihan presiden 2009. Selama tiga tahun berduet, hubungan mereka diwarnai pasang-surut.

Agustus 2003
Jusuf Kalla mengumumkan akan mencalonkan diri sebagai presiden lewat konvensi Partai Golkar.

April 2004
Beberapa hari sebelum konvensi, Kalla mundur dari pencalonan Golkar dan malah berpasangan dengan Susilo Bambang Yudhoyono.

Juli-September 2004
Pasangan Yudhoyono dan Kalla menang dalam pemilihan presiden. Wakil Partai Golkar, Wiranto dan Salahuddin Wahid, kalah pada putaran pertama.

Desember 2004
Kalla merebut posisi Ketua Umum Partai Golkar. Dengan demikian, posisi tawar Kalla menguat karena suara Golkar memiliki kursi terbanyak di DPR.

Desember 2004
Keduanya mulai tampak bersaing. Salah satunya adalah saat Kalla berhasil mendamaikan Aceh dan menandatangani Dekrit Wakil Presiden tentang rehabilitasi Aceh. Belakangan Yudhoyono menyatakan dekrit itu atas perintahnya.

September 2005
Sejumlah kalangan melihat mereka tak kompak juga saat
Yudhoyono mengikuti Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dan mestinya Kalla mewakili di Jakarta. Tapi Yudhiyono tetap menerima laporan para menteri lewat teleconference.

Oktober 2005
Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi dibentuk Yudhoyono. Golkar, yang dipimpin Kalla, memprotes tim kerja yang awalnya dianggap mengambil alih tugas wakil presiden.

Juli 2007
Yudhoyono dan Kalla berebut popularitas dengan menonton tim nasional Indonesia pada Piala Asia di Jakarta. Kalla menonton pertandingan pertama lawan Bahrain. Yudhoyono menonton pertandingan kedua dan ketiga, tapi Indonesia kalah oleh Arab Saudi dan Korea Selatan.


Sumber: Koran Tempo