close

Jamaah Haji Kekurangan Makanan di Mina

Senin, 30 November 2009 | 08:41 WIB

TEMPO Interaktif, Mina: Kasus kekurangan makanan bagi jamaah haji Indoneia mewarnai pelaksanaan haji di Mina. Diduga ada jamaah nonkuota yang dimasukkan ke maktab-maktab Indonesia. Sehingga, jatah makanan untuk jamaah haji Indonesia berkurang.

Kekurangan makanan itu terjadi di maktab 68. Sebagian jamaah kecele ketika mereka sampai di meja prasmanan. Padahal, mereka sudah terlanjur antre. Ada puluhan jamaah yang terpaksa makan nasi tanpa lauk-pauk. Peristiwa ini dialami antara lain jamaah dari Sidoarjo, Jatim yang tergabung dalam Kloter 54 Surabaya.

Masalah itu sudah mencuat pada hari pertama saat jamaah dari Mudzalifah bergerak ke Mina, Jumat (27/11) pagi, kemudian ketika makan siang dan malam. Bahkan, berlanjut hingga pagi berikutnya. Jemaah tak bisa berbuat apa-apa. Pihak katering ngotot, makanan yang disediakan sudah sesuai jatah. Setelah didesak oleh panitia Indonesia, kontraktor katering berjanji akan memperhatian masalah itu.

Atas adanya dugaan tersebut, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) telah melakukan investigasi lapangan. Bahkan Menteri Agama H Suryadharma Ali telah melakukan pertemuan khusus dengan Muasassah Asia Tenegagra, badan yang ditunjuk Kementerian Haji Arab Saudi melakasanakan layanan teknis haji, termasuk menyediakan katering.

Amirulhaj H. Bahrul Hayat, kepada wartawan mengungkapkan pertemuan berjalan lancar. Pemerintah meminta Muasassah memperhatikan kepentingan jamaah Indonesia terkait disusupkannya ratusan jamaah nonkuota ke dalan tenda maktab jamaah regular Indonesia.

Keberadaan jamaah Indonesia tersebut menurutnya sangat mengganggu sistem perhajian Indonesia. Selain membuat ruang maktab atau tenda menjadi sempit, juga menganggu sistem pengawasan catering Indonesia. Diharapkan pada tahun mendatang Muasassah lebih ketat lagi dan menjunjung tinggi kesepakatan bersama yang sudah dijalin antara Indonesia dan pemerintah Arab Saudi. Dan Muasassah menyambut positif hal tersebut.

Selama di Arafah-Mina seluruh jemaah haji mendapat jatah makanan yang disajikan secara prasmanan. Mereka mendapat makan tiga kali sehari, sehingga total 16 kali makan

Sebelumnmya telah terjadi semacam beda pendapat mengenai konsumsi yang akan diterapkan di Mina ini. Menteri Agama Mahtuf Basuni pada 30 Oktober pada acara qur`ah (undian) penempatan pemondokan, sempat menegaskan bahwa katering sistem prasmanan lebih baik dibanding sistem boks yang berisiko basi. Sistem ini menjadi pilihan.

Tetapi Menteri Agama yang baru H Suryadharma Ali, saat mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah 19 November lalu, kepada pers memberi pernyataan tentang kekurangan dan kelebihan sistem boks dan prasmanan.

Selanjutnya sistem ini mendapat sorotan dari anggota Komisi VIII DPR RI yang berkunjung di Arab Saudi untuk memantau pelayanan ibadah haji. Hasilnya menemukan kasus beberapa jamaah sakit perut setelah menyantap makanan yang dihidangkan secara prasmanan tersebut.

Kemudian pada Sabtu, terdapat kasus serupa khususnya menimpa sejumlah anggota PPIH yang menyantap nasi boks berlauk pauk daging dengan cita rasa Indonesia tetapi cukup pedas yang disajikan Kamis sore.


HAYATI MAULANA NUR | DEPAG.GO.ID

Info Grafis

  • Kutipan Enam Ribuan

    Enam ribu rupiah, boleh dibilang, recehan. Tapi, kalau dikumpulkan dari 205 ribu anggota jemaah haji sepanjang 2004 (bukan 2006 seperti ditulis sebelumnya––Red), jumlahnya tak sedikit: Rp 1,23 miliar.

  • Duit Jemaah untuk Wakil Rakyat

    Anggota Panitia Kerja Komisi Agama Dewan Perwakilan Rakyat mesti berterima kasih kepada jemaah haji Indonesia.

  • Terbelit Dana Haji

    Sudah jadi rahasia umum setiap kali anggota Dewan Perwakilan Rakyat bertugas ke luar negeri, kantongnya digerojoki dana dari pelbagai sumber. Begitu pula yang terjadi pada anggota Komisi Agama, yang salah satu tugasnya mengurus masalah haji.

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan