
SEHARUSNYA para ketua partai politik yang berkoalisi dengan Partai Demokrat bertemu di kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin malam pekan lalu. Tapi entah mengapa, pertemuan itu batal. ”Pak SBY minta diundurkan,” kata sumber Tempo di salah satu partai anggota koalisi.
Konon, yang mengatur pertemuan itu adalah Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Perekonomian yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional. Hatta menghubungi satu per satu pemimpin partai koalisi. Meski undangannya mendadak, kecuali Ketua Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar yang tengah mengikuti istigasah di Lampung, para ketua partai sudah setuju hadir.
Hanya beberapa jam sebelum waktu pertemuan, Hatta mengabarkan rapat dibatalkan. ”Saat itu Ketua Golkar Aburizal Bakrie dan Ketua Partai Persatuan Pembangunan Surya Dharma Ali dalam perjalanan menuju Puri Cikeas, Bogor,” cerita sumber itu. ”Terpaksa mereka balik kanan.”
Rencana pertemuan ini jadi berita hangat. Soalnya, keesokan harinya Panitia Khusus Hak Angket Bank Century dijadwalkan mendengarkan pandangan akhir fraksi-fraksi tentang bailout Century Rp 6,7 triliun.
Ada dugaan Yudhoyono mengatur pertemuan itu untuk mempengaruhi pimpinan partai. Karena bocor ke wartawan, SBY minta dibatalkan. Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Amir Syamsuddin punya versi beda. Menurut dia, rapat di Cikeas dibatalkan karena masalah jadwal. Hari itu Yudhoyono merencanakan dua pertemuan: rapat internal Demokrat untuk membahas sikap dalam pandangan fraksi di Panitia Khusus Century esoknya, dan pertemuan dengan para ketua partai itu. ”Yang dengan ketua partai tidak jadi karena terlalu malam. Apalagi ibunda Pak SBY juga sedang sakit,” kata Amir.
Tapi mantan penasihat hukum Partai Demokrat dalam Pemilu 2009 itu tak membantah bahwa dalam sepekan terakhir—menjelang babak akhir Panitia Khusus Century dalam rapat paripurna DPR 2-3 Maret nanti—Yudhoyono dan partainya keras melobi partai. Seorang sumber di Istana bercerita, setelah pertemuan Senin malam gagal, esoknya Yudhoyono mengundang pimpinan partai ke Istana. Tapi lagi-lagi rencana itu dibatalkan.
”Pak Hatta menyarankan sebaiknya pertemuan koalisi tidak dilakukan di Istana,” kata sumber itu. Malamnya, ketika Panitia Khusus tengah mendengarkan pandangan akhir fraksi, dua anggota staf khusus presiden Andi Arief dan Velix Wanggai bertemu dengan Syafi’i Ma’arif di Hotel Dharmawangsa. Menurut Velix, pertemuan sekitar satu setengah jam dengan mantan Ketua Umum Muhammadiyah itu berlangsung hangat.
”Sambil makan ikan kami sampaikan kepada Buya tiga agenda besar pemerintahan: kesejahteraan, demokrasi, dan keadilan,” kata Velix. Mereka juga menjelaskan perihal Bank Century dan mengapa pemerintah memutuskan untuk melakukan bailout. ”Buya memahami konteks krisis saat itu, tapi dia menegaskan langkah hukum harus tetap diambil.”
Pada akhir pertemuan, ketika mereka hendak keluar dari ruangan, Velix dan Andi menyodorkan dokumen L/C bodong PT Selalang Prima Internasional yang melibatkan salah seorang penggagas hak angket. ”Dokumen itu hanya kami tunjukkan,” cerita Velix. Bukan rahasia lagi, yang dimaksud Velix adalah Misbakhun. Politikus Partai Keadilan Sejahtera ini adalah komisaris sekaligus pemegang saham PT Selalang. Menurut audit investigatif Badan Pemeriksa Keuangan, Selalang adalah salah satu pelaku kredit perdagangan alias L/C fiktif yang menjebol kas Century US$ 22,49 juta atau sekitar Rp 209 miliar. ”Kami cuma ingin Buya tahu ada masalah lain yang seharusnya dibahas tapi malah dilewatkan Pansus,” kata Velix.
|