Darmin Nasution: |
![]() Tapi Bank Indonesia jalan terus. Menurut Gubernur BI Darmin Nasution, perampingan angka nominal rupiah harus dilakukan. Selain membuat rupiah lebih gagah, perampingan membuat akuntansi lebih gampang. Bank Indonesia kini sudah merampungkan studi tentang redenominasi dan akan segera disampaikan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Nanti keputusan politik yang akan menentukan," ujarnya kepada Padjar Iswara, Agus Supriyanto, Agoeng Wijaya, Famega Syavira, dan Sutji Decilya dari Tempo, yang menemuinya pada Kamis malam pekan lalu. Apakah perampingan angka nominal rupiah sangat mendesak sehingga harus diprioritaskan? Prioritas Bank Indonesia sekarang ini adalah membenahi pengawasan bank agar kredit berjalan, tingkat suku bunga turun, melakukan kebijakan moneter yang hati-hati agar makroekonomi stabil dan inflasi terkendali. Seluruh cetak biru prioritas tadi akan selesai akhir tahun ini sehingga awal 2011 sudah bisa jalan. Tapi kami melihat prioritas tersebut perlu dilengkapi dengan pembenahan sistem pembayaran, termasuk redenominasi. Kami perkirakan rencana ini baru bisa berjalan pada 2013, karena harus dibicarakan dengan Dewan Perwakilan Rakyat dan pemerintah. Jadi, kalau ditanya redenominasi urgent atau tidak sekarang, jawabnya redenominasi memang tak mendesak. Jadi hanya kebijakan pelengkap? Dalam bahasa matematika: ada yang necessary, ada sufficient. Nah, redenominasi ini sufficient-semacam pelengkap dan penyempurna. Yang necessary adalah pengawasan perbankan, perkreditan, dan kebijakan moneter. Apa pengaruh redenominasi bagi perekonomian kita? Jika orang terbiasa berpikir dengan paradigma pecahan uang besar, kenaikan harga barang dari Rp 100 menjadi Rp 200 dianggap biasa, meski kenaikan itu 100 persen. Kalau dengan paradigma pecahan uang kecil, Rp 100 adalah urusan besar. Rp 1 saja sudah diperhitungkan, apalagi Rp 100. Dengan pecahan uang besar, kecenderungan pembulatan ke atas itu makin banyak. Kalau mau menaikkan tarif Transjakarta dari Rp 3.500 kan di pikirannya langsung ke Rp 5.000. Mereka tidak berani membuat tarif Rp 4.700. Dengan pecahan kecil, orang akan menghitung sen-senan. Selain itu, kasihan anak-anak kita di sekolah dasar. Di kelas mereka menghitung 4+7=11. Tapi dia dikasih uang jajan Rp 5.000. Pergi ke warung, beli sesuatu Rp 1.500 atau Rp 2.000. Di kelas belajarnya 4+7, kok urusan duit jadi empat digit-1.500 dan 2.000. Ini persoalan serius, lo.
|

