Surat Kontrak Pacaran

 
Sony Adi Setyawan, 38 tahun, menimang-nimang sebuah cakram digital di tangannya yang diberikan seorang teman, awal 2007. Ia tak tahu data apa yang tersimpan di dalamnya. Sesampai di rumah, ia membukanya di komputer.

“Saya kaget, isinya ratusan cuplikan adegan pornografi dengan format 3gp,” kata Sony melalui telepon, Jumat lalu. Setelah dicermati, ternyata adegan-adegan itu hampir semuanya diperankan oleh pemain lokal. Lokasi pengambilan gambarnya pun tersebar dari berbagai daerah di negeri ini. Keesokan harinya, ia masih saja terbayang-bayang dengan berbagai adegan tak senonoh di dalam cakram itu. Sony tak munafik bahwa ia terhibur dengan tayangan tersebut.

Tapi sisi kemanusiaannya saat itu merasa terenyuh dengan fenomena yang terjadi. Ia tak ingin sekadar ikut tertawa-tawa dan menganggap wajar berbagai adegan mesum tersebut. Kesadarannya membuat Sony gusar. Lalu ia mulai berkampanye kecil-kecilan di sebuah mailing list (milis) Internet. Di sana ia menyebut maraknya peredaran video pornografi anak negeri ini adalah sebuah kesalahan sosial. “Tanggapannya ramai, dan anggota milis lain ternyata banyak berpendapat sama,”katanya.

Praktisi pertelevisian ini lantas memberanikan diri mendeklarasikan gerakan Jangan Bugil di Depan Kamera (JBDK) pada 11 April 2007. Dari kampung halamannya di Yogyakarta, ia mensosialisasi gerakan itu lewat blog pribadinya di http://tvlab.blogspot.com. Gerakan itu kini menggema ke seluruh Indonesia. Ia sengaja tak memformalkan gerakan tersebut. “Saya ingin ini jadi gerakan moral, tidak mau dipersulit perkara birokrasi,” katanya.

Kini Sony mengaku hampir tiap minggu berkeliling ke berbagai daerah untuk berkampanye melawan pornografi di kalangan remaja. Dengan menggandeng sebuah perusahaan penerbit,mereka mendatangi satu sekolah ke sekolah lain. Mengajak murid-murid agar menjauhi bahaya pornografi di tengah kian majunya teknologi saat ini. “Remaja kita banyak yang menjadi korban pornografi, seperti foto dan video porno,”katanya.

Sementara pada 2007 peredaran video porno yang melibatkan remaja dan diproduksi oleh kalangan remaja melalui kamera telepon seluler ada sekitar 500 video, kini angkanya sudah melesat jauh. “Kami memperkirakan ada sekitar 750 hingga 900 video porno lokal yang sudah beredar,” kata dosen mata kuliah produksi program televisi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.




|
Selanjutnya